Blog

Intisari dari Tauhid diantaranya adalah hati tidak akan tenang, tentram serta iman tidak akan sempurna kecuali tersambung kepada Allah ﷻ. Keinginan, tujuan, kecintaan kepada makhluk tidak diperkenankan kecuali dilandaskan karena Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان
Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi juga karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya (HR Abu dawud dan Turmudzi)

Dalam hadits tersebut beliau mengutarakan barang siapa segala sikap kita lakukan karena Allah maka sempurnalah imannya, maka dari itu siapapun kebutuhan, kecintaan, keinginan, kehendak dan kepatuhannya ditujukan kepada selainnya maka niscaya hal tersebut akan sia-sia dan lenyap, bahkan dia akan ditinggalkan oleh tujuan semunya.

Sebaliknya barang siapa segala kebutuhan ditujukan kepada-Nya saja, dan dia beramal dalam keadaan beriman maka dia akan mendapatkan kebahagiaan, kelezatan, keuntungan abadi serta keberkahan dari-Nya.

Allah ﷻ berfirman :
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة
barang siapa beramal kebajikan, laki-laki atau perempuan dan dalam keadaan beriman maka pasti kami akan berikan kehidupan yang baik (An-Nahl: 97).

kami kutip makna حياة طيبة pada kitab tafsir qurtubi:

. أنه الرزق الحلال، القناعة، توفيقه إلى الطاعات فإنها تؤديه إلى رضوان الله

Maka bisa disimpulkan beberapa diantaranya balasan bagi seorang hamba yang ikhlas segalanya ditujukan kepada-Nya, maka Allah ﷻ akan memberikan rezeki yang halal, kehidupan yang qona’ah, serta taufiq dari Allah ﷻ dibimbing pada ketaatan, hingga menuntunnya pada keridhaan-Nya. Definisi qona’ah itu sendiri adalah salah satu bentuk yang menimbulkan rasa syukur kepada Allah ﷻ, serta merasa cukup apa yang sudah diberikan dari Allah ﷻ, dalam keadaan apapun dia tetap merasa tenang dan tentram, karena percaya segala kesudahan hanya kembali pada-Nya.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya hal apa yang bisa membuat beliau merasa tenang serta qona’ah Beliau menjawab,

علمت بأن رزقي لن يأخذه غيري فاطمئن قلبي له , وعلمت بأن عملي لا يقوم به غيري فاشتغلت به , وعلمت أن الله مطلع علي فاستحيت أن أقابله على معصية , وعلمت أن الموت ينتظرني فأعددت الزاد للقاء الله

“Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan pernah ada yang mengambilnya selainku, maka tenanglah hatiku untuknya, dan aku mengetahui bahwa ilmuku tidak akan ada yang melaksanakannya selainku, maka aku menyibukkan diri dengannya, aku mengetahui bahwa Allah mengawasiku, maka aku malu berhadapan dengannya dalam keadaan maksiat, aku mengetahui bahwa kematian menghadangku, maka aku telah siapkan untuk bekal bertemu dengan Allah.”

Dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قد أفلح من أسلم ورزق كفا فا، وقنعة الله بما آتاه
“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy).

 

Maka pada penghujung tulisan ini kami mengutip pada kitab tafsir qurtubi:
من عمل صالحا وهو مؤمن في فاقة وميسرة فحياته طيبة ، ومن أعرض عن ذكر الله ولم يؤمن بربه ولا عمل صالحا فمعيشته ضنك لا خير فيها
Artinya : barang siapa beramal shalih, dia dalam keadaan beriman walaupun dalam keadaan kaya atau miskin maka dia akan dikaruniai kehidupan yang baik, dan barang siapa berpaling dari peringatan Allah, tidak beriman terhadap Tuhannya, dan tidak beramal shalih maka akan hidup dalam keadaan menderita serta tidak ada kebaikan didalamnya.

Sumber:

tafsir qurtubi
Al-Fawaid
muslimah or.id

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?