Blog

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (1) Dari kejahatan makhluk-Nya (2) Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3) Dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (4) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki (5).”

Surat al-Falaq ini beserta dengan surat an-Nas disebut sebagai “muawwidzatain” yang merupakan pengarahan dari Allah swt kepada Nabi-Nya saw dan kepada seluruh kaum mukmin, agar senantiasa berlindung kepada Allah dari segala sesuatu yang menakutkan, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, yang diketahui maupun yang tidak dan yang secara global maupun terperinci. Ayat pertama surat ini menyuruh kita agar berlindung kepada Rabb al-Falaq yaitu Allah swt. Dia lah Tuhan yang mengatur sebab-sebab hukum alam yang menjadikan pagi membawa terang muncul di tengah gelapnya malam. Waktu itu (subuh) adalah hari yang baru yang akan kita hadapi. Sudah sepantasnya kita berlindung kepada Tuhan agar terlepas dari segala bahaya yang sudah menanti di hadapan kita tanpa kita ketahui.

Ibnu Qayyim menjelaskan makna asy-syarr mencakup dua hal, yaitu rasa sakit dan sesuatu yang mengantarkan kepada rasa sakit. Penyakit, kebakaran, tenggelam adalah sebagian bentuk dari rasa sakit. Sedangkan kekufuran, kemaksiatan dan hal-hal semacamnya merupakan sarana untuk mengantarkan kepada rasa sakit atau kepedihan yaitu siksa Allah. Kita diperintahkan untuk berlindung dari keburukan ciptaan-Nya. Hal ini perlu dipahami bahwa keburukan dan mudharat tidak dinisbatkan kepada Allah Sang Pencipta, tetapi kepada makhluknya. Al-Qur’an senantiasa menisbatkan kepada Allah sifat dan perbuatan-perbuatan yang baik dan sempurna serta tidak pernah menyandarkan keburukan dan kekurangan kepada-Nya.

Apabila matahari telah terbenam dan datanglah malam yang kemudian malam itu semakin larut, maka pada waktu itulah biasanya hal-hal buruk muncul. Tatkala malam tiba sangat rentan muncul sesuatu yang tersembunyi, seperti binatang buas yang siap menerkam dan mencari mangsa, mata-mata yang siap menyergap, dan musuh yang siap membunuh. Pada malam hari juga tak jarang muncul rasa waswas, bisikan-bisikan, kesusahan, kesedihan dan syahwat yang bangkit ketika sendirian di tengah sunyinya malam. Pada ayat yang ketiga ini, mengisyaratkan bahwa malam hari adalah waktu yang rentan terjadi kejahatan. Banyak terjadi kemaksiatan di malam hari, seperti maling, mabuk, begal, pembunuhan, perjudian dan prostitusi. Sehingga Allah memerintahkan agar kita senantiasa berlindung dari keburukan malam.

Selanjutnya pada ayat keempat yang juga masih berkaitan dengan keburukan malam yaitu adalah sihir. Banyak orang yang menempuh jalan keji dengan melakukan praktek sihir guna mencelakakan orang lain. Al-Qur’an telah memberikan gambaran mengenai sihir ketika menceritakan kisah Nabi Musa as. Sihir itu tidak mengubah tabiat sesuatu dan tidak pula menimbulkan hakikat yang baru. Akan tetapi, hanya mengkhayalkan (menimbulkan bayangan) bagi indra dan perasaan sesuai dengan kehendak si penyihir. Oleh sebab itu, ayat ini memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa memohon perlindungan kepada Allah, sebab Allah adalah Tuhan semesta alam yang tidak ada satu pun perkara melainkan di bawah kuasa-Nya.

Terakhir, adalah memohon perlindungan dari orang yang hasad atau dengki. Hasad adalah iri hati atas nikmat yang dimiliki orang lain dan disertai dengan harapan agar nikmat itu hilang darinya. Lebih luas lagi, bahwa hasad bisa juga berupa rasa benci kepada seseorang sehingga menginginkan agar orang tersebut senantiasa berada dalam kesusahan dan kepedihan serta penderitaan. Nabi saw bersabda: “Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hatilah terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan sujud kepada Adam, dan berhati-hatilah terhadap loba (tamak), karena ketamakan mengantarkan Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati (hasad), karena kedua anak adam (Qabil dan Habil) salah seorang diantaranya membunuh saudaranya akibat iri hati.” Terdapat perkataan salah seorang ahli hikmah: “Orang yang dengki memusuhi Allah pada lima perkara;

1) Bencinya kepada Allah mengapa memberi nikmat kepada orang lain,

2) Sakit hatinya melihat seseorang yang dibahagiakan Allah,

3) Menentang Allah, karena Allah memberi kepada siapa pun yang Dia kehendaki,

4) Menginginkan agar nikmat yang telah Allah berikan dicabut kembali,

5) Bersekongkol dengan musuh Allah dan musuhnya sendiri yaitu iblis.”

 

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?