Blog

Diantara dosa-dosa besar “kabair” adalah syirik, yaitu menyekutukan Allah, kata (شِركٌ) berasal dari (شَرِكَ) yang berarti berserikat atau bersekutu, sedang syirik ada dua, diantaranya adalah:

  1. Asy-Syirk al-Akbar(  الشِّرْكُ اْلأَكْبَرُ).

syirik besar, yaitu syirik dalam bidang keyakinan, yaitu meyakini adanya Tuhan selain Allah atau menyekutukan Allah dengan makhluk ciptaannya dalam hal ketuhanan, maka inilah yang disebut syirik besar, Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ  ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 116)

إنَّ الشِركَ لَظلْمٌ عَظيمٌ
“Sesunggunhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar”
(QS. Luqman: 13)

Imam Bukhari mengatakan dari Abdullah yang menceritakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوٓا إِيمٰنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)

Hal itu terasa berat bagi para sahabat Nabi Saw. Karenanya mereka berkata, “Siapakah di antara kita yang tidak mencampuri imannya dengan perbuatan zalim (dosa).” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Bukan demikian yang dimaksud dengan zalim. Tidakkah kamu mendengar ucapan Luqman:
يٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ  ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman 31: Ayat 13)

Di ayat lain Allah berfirman:
إِنَّهُۥ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 72)

Dan tentunya masih banyak lagi ayat lain yang menyebutkan tentang hal ini, maka barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah tempatnya adalah di neraka, begitu juga sebaliknya barangsiapa mati dalam keadaan beriman maka dia akan masuk surga, walaupun dia akan masuk neraka terlebih dahulu karena harus dibersihkan dulu dosa-dosanya.

Rasulullah pernah memberi tahu kepada para sahabat tentang apa saja kabair/dosa-dosa besar, beliau menjawab: الإشراكُ بالله وعُقُوقُ الوَالِدَيْن yang artinya menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua, bahkan dalam hukum islam jika dia murtad menjadi orang muysrik hukumnya adalah di eksekusi mati, beliau bersabda: مَنْ بَدَّلَ دِيْنُهُ فَاقْتُلُوهُ yang artinya adalah “barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia“. tentunya ini dengan hak prerogatif penguasa setempat, bukan kehendak pribadi. Maka dari sini perlu difahami bahwa dosa syirik sangatlah berat konsekuensinya.

2. Asy-Syirk al-Ashgar (  الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ).

syirik kecil, yaitu menyekutukan Allah dalam tujuan beribadah atau beramal kebaikan yang tujuannya untuk memperoleh pujian dari orang lain, padahal tujuan beribadah dan beramal kebaikan itu seharusnya hanya untuk mencari keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala. (al-Mausu’ah al-Qur’aniyah: 369).

Jadi yang dimaksud disini adalah riya’, sebagaimana Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110), yang dimaksud menyekutukan dengan ibadah adalah riya’, As-Sa’di berkata:

وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ْ} أي: لا يرائي بعمله بل يعمله خالصا لوجه الله تعالى، فهذا الذي جمع بين الإخلاص والمتابعة، هو الذي ينال ما يرجو ويطلب، وأما من عدا ذلك، فإنه خاسر في دنياه وأخراه، وقد فاته القرب من مولاه، ونيل رضاه. آخر تفسير سورة الكهف، ولله الحمد

“dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya,” maksudnya, tidak berbuat riya` dengan amalnya, tetapi hendaklah dia mengamalkannya dengan ikhlas karena Wajah Allah  ﷻ. Orang yang telah memadukan antara ikhlas dan mutaba’ah (meneladani Rasul) dialah orang yang meraih apa yang ia harapkan dan ia cari. Adapun orang selain ini, maka dia akan merugi di dunia dan akhirat, kesempatan kedekatan dengan Rabbnya dan perolehan ridhaNya telah hilang darinya.
Inilah akhir surat al-Kahfi, segala puji bagi Allah”.

Hal ini Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah: إياكم والشرك الأصغر yang artinya “jauhilah syirik kecil“, beliau ditanya sahabat ” وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟”, dengan singkat beliau menjawab “الرِيَاء”, yaitu riya‘. Orang yang berlaku riya kelak akan di perlihatkan keburukannya, Rasulullah pernah memberikan peringatan tentang ini:

من رايا رايا الله به ومن سمع سمع الله به
barangsiapa berlaku riya, Allah akan memperlihatkannya. Dan barangsiapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan aibnya (HR Ahmad).

Disatu sisi amalan orang yang riya’ kelak tidak akan diterima, bahkan dihapus layaknya debu yang berterbangan, sungguh rugi sekali orang berlaku riya’, dia sudah mengerahkan tenaga tetapi dia terjerat niat yang tidak lurus, Allah berfirman:

وَقَدِمْنَآ إِلٰى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَآءً مَّنْثُورًا

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 23)

Abdullah Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Hakim, dari Abu Sari’ At-Ta-i,dari Ubaid ibnu Ya’la yang mengatakan bahwa sesungguhnya al-haba itu adalah debu yang diterbangkan oleh angin.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Tidakkah engkau melihat pohon yang kering bila tertiup angin? Makna yang dimaksud adalah seperti dedaunannya yang berguguran itu.

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah tentang keselamatan. Beliau menjawab “Hendaknya kamu jangan menipu Allah“, Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana Allah bisa ditipu?”, Beliau menjawab, “yaitu kamu mengamalkan perintah Allah dan RasulNya tetapi bukan mengharap wajah Allah”. Takutlah kamu akan Riya’, karena ia adalah syirik kecil, dan sesungguhnya pada hari kiamat nanti orang riya’ itu akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk dengan empat nama: wahai mura’ (orang riya’), hai ghaadir (penipu), hai faaqir (penipu), dan hai khaasir (orang rugi), sungguh amalanmu telah sia-sia dan batal pula pahala bagimu, kamu sudah tidak memiliki pahala lagi disisi Kami, pergilah dan ambillah pahala yang disediakan oleh orang yang karenanya kamu beramal, hai penipu!.

Sebagai penutup beberapa ditanya tentang ikhlas diantaranya menjawab “Hendaknya kamu tidak menyukai pujian dari manusia”, fudhoil bin iyadh berkata “meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedang mengerjakan amal karena manusia itu syirik (kecil), ikhlas adalah menjagamu dari keduanya.

Sumber:

Fatwa Tarjih

Kabair karya Adz-dzahabi

Tafsir Al-Quran ibnu katsir

Tafsir As-Sa’di

App tadabbur Al-Quran

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?