Blog

Bulan Ramadhan telah berlalu, kini kita memasuki bulan Syawal. Imam ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif memberikan sebuah perumpamaan, seperti halnya salat wajib, ada salat wajib yang memiliki salat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah nya, puasa pada bulan Syawal menjadi puasa sunnah rawatib ba’da puasa pada bulan Ramadhan. Karena dengan puasa Syawal maka itu seperti puasa setahun penuh. Sebagaimana dalam hadis Nabi Muhammad bersabda :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Maka barangsiapa yang mampu berpuasa 6 hari pada bulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan, maka ia mendapatkan keutamaan seperti berpuasa selama 1 tahun penuh. Tentu hal ini merupakan suatu yang perlu dijadikan sebuah motivasi. Bahwa dengan amalan ringan, ia mendapatkan balasan yang lebih besar dari amalan itu.

Banyak diantara kita yang bertanya-tanya mengenai puasa Syawal ini, mulai dari keutamaan lainnya, bagaimana cara melakukan puasanya, dan lain sebagainya. Tentu yang demikian perlu diapresiasi karena dengan rasa ingin tahu tersebut seseorang akan melakukan sesuatu setelah mengerti mengapa ia harus melakukannya.

Terkait puasa Syawal, puasa ini dilakukan pada bulan Syawal selama 6 hari. Puasa ini disunnahkan oleh mayoritas ulama. Namun terdapat beberapa pendapat mengenai tata cara puasa Syawal itu sendiri.

Pertama, puasa enam hari tersebut disunnahkan dari awal bulan secara berturut-turut. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan Ibnul Mubarak.

Kedua, tidak ada perbedaan antara puasa enam hari secara berturut-turut atau secara dipisah-pisah pada hari-hari di bulan Syawal, keduanya sama saja. Ini adalah pendapat Waki’ dan Ahmad.

Ketiga, tidak boleh melakukan puasa Syawal setelah Idul Fitri, karena itu adalah hari-hari makan dan minum, akan tetapi puasa Syawal itu dilakukan tiga hari sebelum hari-hari putih atau setelahnya. Ini adalah pendapat Ma’mar dan Abdurrazzaq.

Jadi, untuk pelaksanaan puasa pada bulan Syawal ini sebenarnya fleksibel saja dan usahakan masih pada bulan Syawal. Maka puasa ini sudah bisa dimulai pada hari kedua bulan Syawal sampai bulan Syawal selesai. Boleh di awal, tengah maupun diakhir. Pelaksanaan puasa Syawal ini tidak bertujuan untuk memberatkan siapapun, jika ia mampu berpuasa enam hari pada bulan Syawal maka ia akan mendapatkan keuatamaannya. Namun apabila ia tidak mampu berpuasa juga tidak ada dosa baginya, karena puasa ini dihukumi sunnah. Hanya saja bagi mereka yang memang sudah terbiasa berpuasa dan sudah menjadikan puasa Syawal sebagai agenda rutin tahunan tentu akan merasa sangat rugi apabila ditinggalkan.

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan kembali sebelum melaksanakan puasa Syawal ini, agar puasa Syawal ini tetap bisa dilakukan tanpa adanya keraguan dan tetap mendapatkan keutaman-keutamaannya.

Pertama, usahakan telah memenuhi hitungan puasa Ramadhan. Maksudnya adalah usahakan sudah tidak ada hutang puasa Ramadhan, karena bila kita memperhatikan redaksi hadisnya yakni “barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal”. Maka puasa Syawal bisa dilakukan setelah ia menyempurnakan hitungan puasa Ramadhan. Hal ini telah disepakati oleh sebagian ulama, karena haruslah mendahulukan yang wajib baru yang sunnah. Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa puasa Syawal itu waktunya sempit atau terbatas sedangkan mengqodho puasa itu waktunya muwassa’ atau lapang. Maka tidak mengapa ia berpuasa Syawal dahulu baru mengqodho. Namun alangkah lebih baik apabila ia menyempurnakan puasa Ramadhannya terlebih dahulu.

Kedua, dibolehkannya bagi siapapun yang hendak berpuasa Syawal untuk berniat puasa pada pagi harinya. Dengan syarat ia belum makan dan minum, kemudian ia berniat untuk berpuasa. Hal ini dikarenakan puasa sunnah itu tidak mengharuskan diniatkan pada malam hari sebelum pelaksanaan puasa wajib. Maka bagi yang sejak setelah salat subuh sampai sebelum waktu dhuhur ia belum makan maupun minum atau melakukan sesuatu yang bisa membatalkan puasa, maka pagi atau siangnya itu juga ia boleh meniatkan puasa.

Ketiga, boleh menggabungkan puasa Syawal dengan puasa sunnah lainnya. Misalkan bertepatan dengan hari Senin dan Kamis maka boleh menggabungkan dua puasa yakni puasa Senin Kamis dan puasa Syawal. Tentu juga akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus.

Oleh : Muhda Ashari D. Wibawa

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?