Blog

Puasa atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan ash-Shiyam secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sementara itu, secara istilah syara’, puasa adalah menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar (fajar shadiq) hingga terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia tentu telah memberikan penjelasan juga hukum-hukum mengenai puasa. Seperti yang telah Allah firmankan dalam Q.S al-Baqarah ayat 182:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Allah mewajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang beriman, para pemeluk agama-agama lain sejak zaman Nabi Adam. Dia menyeru mereka dengan atribut “iman” yang menuntut untuk melaksanakan apa yang diserukan itu. Dia menjelaskan bahwa puasa adalah kewajiban atas seluruh manusia. Ini merupakan anjuran untuk menjalani puasa, sekaligus merupakan penjelasan bahwa perkara-perkara yang berat –apabila sudah menjadi umum (dikerjakan semua orang)- terasa ringan untuk dikerjakan, dan orang-orang yang melaksanakannya merasa santai dan tenteram karena perkara-perkara (yang berat) tersebut berlandaskan kebenaran, keadilan, dan persamaan.

Puasa menjadi penyuci jiwa, mendatangkan keridhoan Tuhan, dan mendidik jiwa agar bertakwa kepada Allah pada saat sepi dan ramai, membina kemauan, dan mengajarkan kesabaran dan ketahanan dalam menanggung kesusahan, penderitaan, dan penghindaran syahwat.

Puasa dapat mendidik jiwa untuk bertakwa terwujud dari beberapa aspek, yang terpenting di antaranya berikut ini:

  1. Puasa memupuk di dalam jiwa rasa takut kepada Allah Ta’ala pada saat sepi dan ramai, sebab tidak ada yang mengawasi orang yang berpuasa kecuali Tuhannya.
  2. Puasa meredakan syahwat dan mengurangi pengaruh dan kendalinya, sehingga ia kembali ke batas normal dan keadaan tenang.
  3. Puasa memunculkan perasaan yang peka dan melahirkan rasa kasih sayang yang mendorong seseorang untuk memberi.
  4. Puasa merealisasikan konsep persamaan antara si kaya dan si miskin, anatara orang terpandang dan rakyat biasa, dalam pelaksanaan satu kewajiban yang sama.
  5. Puasa membiasakan kedisiplinan dalam penghidupan, pengekangan kehendak dalam tempo antara waktu sahur dan berbuka dalam satu waktu.
  6. Puasa memperbarui struktur fisik, menguatkan kesehatan.

Ayat ini juga mengandung beberapa hokum terkait dengan puasa, di antaranya:

  1. Puasa punya keutamaan dan pahala yang besar.
  2. Puasa mempersiapkan jiwa untuk ketakwaan.

Masih dalam surat al-Baqarah yakni ayat 187 Allah juga memberikan penjelasan hukum-hukum perihal puasa yaitu dengan berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima taubatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa”.

Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Kaum muslimin dulu makan, minum, menggauli istri selama mereka belum tidur. Kalau sudah tidur, mereka tidak mau melakukannya. Namun suatu ketika seorang laki-laki Anshar yang bernama Qish bin Shirma, menunaikan sholat Isya kemudian tidur, dan dia belum makan maupun minum, sehingga pada pagi harinya ia kepayahan. Dan umar pun pernah menggauli isterinya setelah ia tidur , maka keesokan harinya ia menemui nabi saw. dan menceritakan hal itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya , Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa“ sampai firman-Nya, kemudian sempurnakanlah itu sampai (datang) malam”.

Az-Zamakhsyari menulis: seandainya Allah tidak menyebut ungkapan (مِنَ الْفَجْرِ) tentu tidak diketahui bahwa kata khait (benang) dalam ayat ini adalah ungkapan isti’aarah. Setelah ditambah (مِنَ الْفَجْرِ), ungkapan ini berubah menjadi tasybiih baliigh dan bukan lagi tergolong isti’aarah. Ayat ini mengingatkan dan mengajari kaum mukminin tentang perkara yang mesti mereka perhatikan dalam puasa dan ibadah-ibadah lainnya, seperti ketaatan, keikhlasan, etika, dan hukum-hukum.

Adapun dalam ayat ini terdapat banyak hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, terutama berkaitan dengan hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang ketika berpuasa, diantara hukum-hukum tersebut yaitu:

  1. Kebolehan jimak pada malam hari dan keharamannya pada siang hari, sama seperti makan dan minum. Dulu jimak itu haram setelah berbuka dan tidur, kemudian hukum ini dinasakh. Larangan-larangan puasa yang disebutkan dalam ayat ini antara lain: makan, minum, dan jimak. Adapun hal-hal yang hanya mengarah kepada jimak tidak membatalkan puasa. Tetapi dalam hal ini terjadi ikhtilaf di antara ulama.
  2. Wajibnya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat niat sebelum fajar menurut jumhur ulama.
  3. Jumhur ulama menganggap sah puasa orang yang masih junub ketika fajar terbit.
  4. Wanita yang haid apabila telah suci. Jumhur berkata: Apabila wanita yang haid sudah suci sebelum fajar terbit dan ia tidak mandi hingga pagi, ia wajib berpuasa dan puasanya sah, baik ia tidak mandi secara sengaja maupun lupa, sama hukumnya dengan orang yang junub
  5. Bekam tidak membatalkan puasa karena Nabi saw. dulu berbekam pada tahun haji Wada’ sementara beliau sedang ihram dan sedang puasa.
  6. Barangsiapa ragu bahwa fajar telah terbit, maka ia harus berhenti makan. Jika ia makan padahal ia ragu, ia harus mengqadha, sama seperti orang yang makan karena lupa. Ini menurut Malik. Sedangkan Abu Hanifah dan Syafi’i berkata: Ia tidak menanggung apa-apa sampai jelas baginya bahwa fajar telah terbit. Jika sudah jelas bahwa fajar telah terbit (dan ia makan), ia wajib mengqadha, dengan kesepakatan para imam semua madzhab, dan ini didasarkan atas kaidah: laa ‘ibarata bizhzhannil-bayyini khatha’uhu (dugaan yang jelas kelirunya tidak diperhitungkan).
  7. Firman Allah Ta’ala dalam ayat ini menunjukkan bahwa puasa wishal terlarang sebab malam merupakan ghaayah (batas akhir) puasa.
  8. Menurut jumhur ulama, puasa wishal hukumnya makruh. Namun sebagian ulama mengharamkannya karena puasa ini bertentangan dengan lahiriah nash al-Qur’an dan tergolong perbuatan meniru ahli kitab.
  9. Bagi orang yang berpuasa disunnahkan berbuka dengan beberapa kurma segar, kurma kering, atau beberapa teguk air putih.
  10. Disunnahkan berdoa sesudah berbuka.
  11. Disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawwal.
  12. Jimak membatalkan i’tikaf, denngan dalil firman-Nya, “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”
  13. Disunnahkan beri’tikaf di masjid.
  14. Wajib manaati hukum-hukum (perintah dan larangan) Allah.

Demikian, sedikit penafsiran mengenai ayat-ayat puasa dalam al-Qur’an, tentu dengan penjelasan yang singkat ini diharapkan dapat mengambil hikmah serta hukum yang ada. Tentu mengenai hukum-hukum dalam puasa masih banyak lagi, insya Allah nantinya akan dapat kita kupas lebih dalam sebagai bekal menyambut bulan penuh berkah yakni bulan Ramdhan.

 Alfandi Ilham S.Ag

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?