Blog

Kurban yang setiap tahunnya senantiasa dilaksanakan oleh umat muslim ternyata tetap saja dalam prakteknya menyisakan beragam pertanyaan. Tak jarang terjadi di berbagai masjid yang menyelenggarakan ibadah kurban melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan oleh syariat. Permasalahan mengenai pendistribusian daging kurban salah satu contohnya. Demikianlah akan disampaikan beberapa hal mengenai problematika seputar ibadah kurban yang kerap terjadi di masyarakat. Mengenai pembagian daging kurban dalam Q.S al-Hajj ayat 28 dan 36 serta dalam beberapa hadis Nabi saw telah dijelaskan. Maka, orang yang menerima daging kurban adalah sebagai berikut:

  1. Shahibul qurban, yaitu dimakan sendiri dan untuk keluarganya. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa shahibul qurban wajib memakan sebagian daging hewan kurbannya.
  2. Disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Q.S al-Hajj: 28 yaitu orang yang sengsara dan fakir. Serta dalam hadis Nabi saw riwayat Imam Muslim dari Ali bin Abi Thalib yaitu orang-orang miskin.
  3. Dihadiahkan kepada orang yang berkecukupan atau tidak meminta-minta (al-Qanii’) sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S al-Hajj: 36.
  4. Diberikan kepada orang yang meminta-minta (al-Mu’tar) sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S al-Hajj: 36.

Mengenai pembagian daging kepada orang kafir para ulama berpendapat diantaranya ulama mazhab maliki mengatakan bahwa memberikan daging kepada orang kafir adalah makruh. Pendapat lain disampaikan oleh ulama mazhab syafii bahwa haram memberikan daging kurban kepada orang kafir untuk kurban yang wajib (misalnya kurban nadzar), dan makruh untuk kurban yang sunnah. Al-Baijuri berpendapat bahwa boleh memberikan sebagian daging kurban yang sunnah kepada orang kafir dzimmi yang fakir, tapi ketentuan ini tidak berlaku  bagi kurban yang wajib. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai pemberian bagian dari daging kurban kepada jagal sebagai upah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis Nabi saw riwayat Imam Muslim dari Ali bin Abi Thalib dan riwayat Imam Ahmad dari Abi Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw melarang memberikan bagian dari hewan kurban sebagai upah penyembelihan. Adapun mengenai pembagian daging kurban yang telah dimasak atau dikalengkan menjadi kornet boleh dilakukan. Hal ini didasarkan pada pertimbangan kemashlahatan yang lebih besar. Ulama mazhab hanafi dan maliki membebaskan sedekah daging kurban dalam bentuk apapun yakni dalam kondisi mentah atau sudah dimasak.

Permasalahan selanjutnya adalah perihal kepanitiaan dalam ibadah kurban. Dalam al-Quran maupun hadis Nabi saw tidak didapati satupun yang menjelaskan adanya orang yang ditugasi untuk menjadi pengurus dalam pelaksanaan kurban. Akan tetapi, untuk kelancaran, efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kurban dipandang perlu adanya kepanitiaan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini, yaitu:

  1. Tugas dari panitia kurban adalah membantu shahibul qurban.
  2. Fungsi panitia kurban untuk memudahkan penyelenggaraan kurban.
  3. Panitia tidak boleh mengambil bagian dari hewan kurban sebagai ganti upah dari jasa dalam mengurusi hewan kurban, namun dapat membebankan kepada shahibul qurban dengan cara musyawarah atau mengambil dari sumber lain.

Mengenai kurban atas nama orang yang telah meninggal, hal tersebut tidak ada tuntunannya dalam agama, sehingga tidak boleh untuk dilakukan. Namun dikecualikan dalam dua hal, yaitu adanya nadzar semasa hidupnya dan adanya wasiat dari orang yang meninggal dunia.

Masalah lain yang juga sering timbul di masyarakat adalah mengenai pemanfaatan kulit hewan kurban. Memang terdapat larangan menjual kulit hewan kurban sebagaimana dalam hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Namun, para ulama diantaranya al-Auza’i, Ahmad Abu Tsaur dan ulama mazhab syafii mengatakan bahwa dibolehkan menjual kulit hewan kurban sepanjang hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kepentingan kurban. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa boleh menukarkan kulit hewan kurban sepanjang tidak dengan dinar atau dirham, melainkan dengan barang, karena dengan barang itu akan dapat untuk dimanfaatkan. Kesimpulan dari masalah ini adalah bahwa boleh menjual kulit hewan kurban yang kemudian hasil penjualannya dimanfaatkan untuk membeli daging atau kambing untuk dibagikan kepada yang berhak menerima bagian daging kurban. Yang dilarang oleh agama adalah menjual kulit atau bagian dari hewan kurban yang hasilnya untuk kepentingan pribadi shahibul qurban.

Terakhir adalah masalah mengenai dana kurban yang dialihkan untuk membantu bencana sosial. menghadapi dua macam ibadah ini (kurban dan membantu bencana), maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Bagi yang mampu melaksanakan keduanya yaitu membantu korban yang terdampak bencana (dalam kondisi saat ini termasuk orang yang terdampak akibat wabah covid-19) dan berkurban maka hal itu sangatlah baik dan dapat dilaksanakan keduanya tidak ada masalah.
  2. Bagi yang harus memilih mana yang harus didahulukan karena tidak dapat melaksanakannya secara bersamaan, maka hendaknya mendahulukan memberi bantuan korban yang terdampak musibah. Hal ini didasarkan pada hukum menyelamatkan jiwa (hifzu an-nafs) adalah wajib sedangkan berkurban hukumnya sunnah. Menjaga jiwa seseorang adalah termasuk dari lima kemashlahatan (adh-dharuriyyat) yang oleh karenanya harus dijaga dan diperhatikan dengan segala kemampuan yang ada.

 

Alfandi Ilham S.Ag
Kabid Dakwah Dan Pengkajian Agama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tompeyan

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?