Blog

Umat Islam itu memang unik, bahkan muslim di suatu daerah dengan daerah yang lainnya pun memiliki keunikannya masing-masing. Di Indonesia saja, terdapat aneka ragam muslim yang justru memperkaya khazanah Islam di Indonesia. Sehingga secara kultur, Islam di Indonesia tentu berbeda dengan Islam yang di negara lainnya. Ingat, secara kulturnya, selebihnya masih memiliki kesamaan.

Mari kita sempitkan dulu ke pembahasan bulan Muharam. Muslim Indonesia memiliki keunikan dalam merespon salah satu dari keempat bulan mulia menurut kalender hijriah ini. Mulai dari pandangan terhadap bulan Muharam, waktu-waktu khusus, amalan-amalan di dalamnya, dan serba-serbi Muharam lainnya.

Awal Bulan Muharam

Bagi sebagian masyarakat, malam 1 Muharam atau 1 Suro adalah malam keramat. Kepercayaan seperti ini muncul di kalangan masyarakat Jawa. Bahkan saking keramatnya, banyak mitos yang dibuat seperti larangan menikah pada tanggal tersebut, kalau ada yang menikah pada tanggal 1 Muharam maka rumah tangganya akan mendapatkan malapetaka.

Namun sebagai muslim yang berkemajuan, tidak perlu kita mempercayai mitos tersebut. Bulan Muharam adalah bulan yang baik dan mulia, buktinya banyak juga yang melangsungkan pernikahan justru rumah tangganya bahagia dan penuh keberkahan, Ustaz Abdan Idza Shalla dan istri menjadi salah satu contohnya. Siapa beliau, beliau adalah orang baik dan bersahaja.

Puasa Awal Muharam

Puasa di awal bulan Muharam juga menjadi hal yang cukup sering dilakukan. Dengan dalil dari Nabi Muhammad Saw yang bersabda dengan poin intinya menyatakan bahwa bulan yang utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah Muharam. Mungkin kita lebih familiar dengan puasa tanggal 9 Muharam dan 10 Muharam, yakni puasa tasu’a dan ‘asyura.

Ada yang berpendapat puasa pada tanggal 1 Muharam itu bid’ah, tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Namun tidak sedikit yang berpendapat itu sunnah karena dalil yang telah disebutkan di atas. Maka sebagai muslim yang berkemajuan, hendaknya kita menyikapinya secara bijak.

Silahkan berpuasa, namun tidak dikhususkan pada tanggal tersebut. Bisa saja ada di antara kita yang sudah terbiasa sunnah, semisal tanggal 1 Muharam bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka silahkan saja ia berpuasa karena kebiasaannya. Apabila ada yang berpuasa pada tanggal tersebut, tidak elok bila kita langsung mengatakan kepadanya bahwa itu bid’ah, barangkali ia berpuasa sunnah dan bertepatan dengan tanggal 1 Muharam.

Bisa jadi ada yang berpuasa karena berpendapat bahwa puasa di bulan Muharam itu utama dengan balasan pahala yang besar tanpa memandang itu awal Muharam, maka ia berpuasa. Tapi jangan lupa untuk bisa berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

Doa Awal Tahun

Pembacaan doa awal tahun juga menjadi keunikan di kalangan masyarakat. Doa adalah setengah dari ibadah, dan Allah pun senang dengan orang yang berdoa. Namun bagaimana dengan doa awal tahun hijriah? Tetap saja, ada sebagian yang berpendapat bahwa doa tersebut tidak ada dalil dan contohnya dari nabi, sehingga tidak perlu dibaca dan diamalkan. Sebagian lain berpendapat bahwa yang utama terdapat pada makna doa tersebut dan mengharap kebaikan di tahun ini. Bagaimana kita menyikapinya?

Doa itu bisa bersifat umum dan khusus, maksudnya adalah umum siapa saja bisa berdoa dengan bahasa apapun asal doa tersebut mengandung kebaikan dan tidak terdapat lafaz yang menyebabkan tidak terkabulnya suatu doa. Doa yang khusus diartikan sebagai doa yang sudah ada contohnya dari Nabi Muhammad.

Dalam hal ini, siapapun boleh berdoa meminta apapun dengan bahasa apapun kepada Allah yang baik-baik, karena Allah senang ketika hambaNya berdoa meminta kepadaNya, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 186.

Memang baiknya kita juga berdoa dengan yang sudah dicontohkan oleh nabi, karena doa nabi itu seperti memiliki persentase tinggi diterima dan dikabulkannya. Mungkin seperti itu perumpamaannya. Namun bukan berarti kita tidak boleh berdoa dengan maksud dan keinginan kita, asalkan tidak merubah lafaz doa yang sudah ada, kita tetap boleh memanjatkan doa kita. Atau kita membaca doa yang dicontohkan oleh orang-orang shalih, selagi doa itu mengandung kebaikan tanpa kita meyakini bahwa doa tersebut berasal dari Nabi Muhammad.

Maka kita berdoa dengan doa awal tahun tersebut dikarenakan terdapat kebaikan di dalamnya, dan tidak menyandarkan doa tersebut berasal dari nabi. Namun ada baiknya kita berdoa untuk kebaikan kita bukan hanya pada momen tertentu saja, setiap waktu kita boleh berdoa karena Allah senang dengan yang demikian itu.

Tidak berdoa dengan doa awal tahun bukan berarti kita tidak akan mendapat kebaikan di tahun tersebut, dan berdoa di awal tahun juga bukan berarti ia telah melakukan suatu hal baru dalam hal agama, karena ia sedang berdoa memohon kebaikan kepada Allah. Apakah harus dengan lafal yang umum di masyarakat seperti yang kita ketahui? Tentu tidak, bisa jadi cukup mengucap Bismillâhirrahmânirrahîm untuk tahun ini sudah dianggap cukup.

Bulan Muharam adalah bulan mulia, mari kita muliakan bulan tersebut dengan amal shalih. Tidak perlu berlebihan dalam menyikapi perbedaan, karena muslim di Indonesia itu unik. Mari menjadi muslim yang bijak.

Wallâhu a’lamu bishawab.

Oleh : Muhda Ashari D. Wibawa

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?