Blog

Islam telah mengatur segala hal dalam kehidupan ini. Sebagai seorang muslim yang baik idealnya akan melakukan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan dengan penuh rasa patuh dan tunduk. Akan tetapi, tidak jarang timbul pertanyaan-pertanyaan “Mengapa” terkait dengan segala macam perintah dan larangan tersebut. Timbul pertanyaan semisal, mengapa kita diwajibkan shalat? Mengapa khamr itu dilarang? Pertanyaan filosofis “Mengapa” yang dilontarkan itu memang tampak sederhana, namun syarat akan makna. Di sini lah peran penting al-maqashid dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Al-Maqashid mencoba menjelaskan hikmah di balik aturan syariat Islam.

Secara bahasa al-maqashid merupakan bentuk jamak dari kata “maqshid” yang berarti tujuan, sasaran, hal yang diminati atau tujuan akhir. Dalam perkembangannya ada sebagian ulama yang menyandingkan istilah al-maqashid dengan al-mashlahah. Najmuddin al-Tufi mendefinisikan al-mashlahah yaitu sebab yang mengantarkan kepada maksud syariat. Adapun al-maqashid dapat dikatakan sebagai sejumlah tujuan Ilahi dan konsep akhlak yang melandasi proses at-Tasyri’ al-Islami (penyusunan hukum berdasarkan Syariat Islam). Jaser Audah menjelaskan bahwa yang dimaksud al-maqashid adalah cabang ilmu keIslaman yang menjawab segenap pertanyaan-pertanyaan yang sulit yang diwakili oleh sebuah kata yang nampak sederhana, yaitu “Mengapa”. Al-Qarafi meletakkan suatu kaidah “Suatu bagian dari hukum Islam, yang didasari oleh syariat, tidak dapat dianggap sebagai al-maqashid, kecuali terpaut padanya sebuah sasaran yang sah, yang dapat meraih kemashlahatan dan mencegah kemafsadatan.”

Al-Maqashid diklasifikasikan ke dalam tiga dimensi, yaitu: Dharuriyyat (Keniscayaan), Hajiyyat (Kebutuhan) dan Tahsiniyyat (Kemewahan). Kemudian para ulama membagi aspek Dharuriyyat menjadi lima bagian, yaitu: Hifz ad-Din (Pelestarian agama), Hifz an-Nafs (Pelestarian nyawa), Hifz al-Maal (Pelestarian harta), Hifz al-Aql (Pelestarian akal) dan Hifz an-Nasl (Pelestarian keturunan). Melestarikan kelima kompenen tersebut merupakan keharusan yang tidak bisa ditinggalkan demi keberlangsungan hidup manusia. Tanpa akal kehidupan manusia akan berbahaya, oleh karena itu Islam melarang khamr, narkoba dan hal-hal lain yang dapat merusak akal manusia. Kehidupan manusia akan berada dalam masalah besar jika nyawa tidak dijaga dengan berbagai upaya seperti, pencegahan penyakit, pola hidup sehat, menjamin lingkungan dari polusi dan sebagainya. Dalam hal ini Rasulullah saw melarang adanya penyiksaan terhadap manusia, hewan bahkan tumbuhan.

Stabilitas kehidupan juga akan terguncang tatkala terjadi krisis ekonomi. Maka, Islam melarang keras sebab-sebab yang dapat menimbulkan krisis ekonomi, seperti, monopoli, riba, korupsi dan kecurangan. Demikian pula dengan pelestarian keturunan yang Islam telah memerintahkan untuk mendidik anak dengan benar dan memelihara keutuhan keluarga serta melarang perbuatan zina, durhaka kepada orang tua dan menelantarkan anak. Adapun pelestarian agama tentu merupakan kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Dimensi berikutnya setelah dharuriyyat adalah hajiyyat atau kebutuhan. Hajiyyat berada satu level dibawah dharuriyyat yang berupa kebutuhan dalam hidup namun bukan berupa keharusan. Contoh hajiyyat adalah menikah, berdagang dan sarana transportasi. Islam mendorong dan menganjurkan umat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tingkat individu tidak tersedianya hajiyyat bukan persoalan hidup dan mati. Sebagai contoh apabila sebagian orang memilih untuk tidak menikah atau tidak memiliki alat transportasi, maka hal itu tidak akan menyebabkan kehidupan manusia terancam. Akan tetapi, terdapat pengecualian yakni apabila salah satu hajiyyat (kebutuhan) itu tidak tersedia bagi sebagian besar manusia, maka akan naik derajatnya dari hajiyyat ke dharuriyyat.

Adapun dimensi yang terakhir adalah tahsiniyyat (kemewahan). Tahsiniyyat merupakan sarana memperindah kehidupan, seperti minyak wangi, pakaian yang bagus, rumah yang asri dan sebagainya. Islam mendukung dan tidak melarang hal-hal tersebut dan menganggapnya sebagai tanda kemurahan Allah terhadap manusia dan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada makhluk. Perlu diperhatikan bahwa Islam juga memberikan batasan agar manusia tidak memberi perhatian terhadap tahsiniyyat melebihi  perhatiannya terhadap dharuriyyat dan hajiyyat. Dalam ketiga dimensi di atas terdapat keterkaitan atau irisan yang mengubungkan satu dengan yang lain. Keterkaitan tersebut yang telah dicatat oleh Imam asy-Syatibi. Misalnya dalam pernikahan dan perdagangan yang termasuk dimensi hajiyyat, memiliki hubungan manfaat yang berkaitan erat dengan pelestarian keturunan dan harta yang termasuk dimensi dharuriyyat.

Sebagai penutup, ilmu mengenai maqashid asy-syariah ini telah mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai pada saat ini. Dalam kitabnya al-Muwafaqat Imam asy-Syatibi melakukan tiga transformasi penting dalam ilmu maqashid asy-syariah, yaitu:

  1. Al-Maqashid dari sekadar “mashlahat-mashlahat lepas” ke “asas-asas hukum Islam”.
  2. Al-Maqashid dari “hikmah di balik aturan” kepada “dasar-dasar aturan”.
  3. Al-Maqashid dari “ketidaktentuan” menuju “keyakinan”.

Alfandi Ilham S.Ag
Kabid Dakwah Dan Pengkajian Agama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tompeyan

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?