Blog

Dalam mengarungi bahtera kehidupan, manusia tidak akan pernah tau hal apa yang akan menimpanya. Muncul beragam pernyataan mengenai apakah manusia dapat merubah masa depan atau bisa disebut juga dengan takdir. Apakah justru manusia itu hanyalah makhluk yang tinggal menerima saja segala ketetapan Allah dengan hanya pasrah tanpa melakukan suatu hal apapun.  Islam sebagai agama yang haq telah memberikan panduan dalam menyikapinya. Akhir-akhir ini muncul beberapa pandangan yang cukup meresahkan di tengah kondisi yang masih sangat memprihatinkan akibat wabah covid-19 ini. Ada yang berpandangan bahwa manusia itu hanya bisa pasrah semua sudah diatur oleh Allah sehingga tidak usah takut dengan virus covid-19 ini kematian Allah yang mengatur. Sekilas pendapat itu nampak benar, dan seakan menunjukkan tingkat keimanan yang sudah tinggi. Namun, sangat penting diperhatikan apakah seperti itu ajaran Islam?.

Sebenarnya pemikiran tentang penyikapan manusia terhadap takdir ini telah muncul sejak lama, bahkan embrionya telah ada sejak zaman Nabi saw. Dalam sejarah ilmu kalam kita mengenal dua kelompok yang cukup sering muncul namanya, yaitu jabariyah dan qadariyah. Jabariyah adalah suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa manusia dipaksa oleh Tuhan atau tidak mempunyai kekuasaan dan pilihan sama sekali. Singkatnya manusia menjalani hidup serba terpaksa (majbur). Sebaliknya qadariyah adalah aliran atau paham yang berpendapat bahwa manusia memiliki kekuatan dan kekuasaan penuh dalam menentukan nasibnya sendiri. Paham jabariyah dan qadariyah ini berlawanan satu sama lain, jabariyah menganggap manusia hanya seperti wayang atau benda mati yang hanya tinggal menjalankan sesuai ketentuan Allah tanpa memiliki otoritas andil di dalamnya. Qadariyah beranggapan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan otoritas atau kekuasaan penuh dalam menentukan perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan.

Ahlussunnah wal jamaah telah memberikan pemahaman yang wasathiyyah atau pertengahan dalam mengkaitkan antara iman kepada qadha’ dan qadar Allah dengan perbuatan manusia. Imam Abu Hasan al-Asyari berpendapat bahwa Allah adalah satu-satuya pencipta. Tidak ada makhluk yang memiliki kehendak seperti kehendak Allah. Jika Allah berkehendak apapun akan terjadi, begitu sebaliknya jika Allah tidak berkehendak maka tidak akan terjadi. Akan tetapi, manusia memiliki upaya dengan kehendak yang telah Allah berikan kepadanya. Upaya ini disebut dengan al-kasb. Upaya ini lah yang akan menentukan apakah manusia akan memilih jalan kebaikan atau keburukan. Dengan adanya al-kasb maka kelak manusia akan diganjar sesuai dengan amal perbuatannya.

Sejalan dengan pendapat Imam al-Asyari, Syaikh Utsaimin dalam kitabnya Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat bahwa, Allah swt Maha Mengetahui atas segala sesuatu baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah juga telah mencatat di Lauh Mahfudz apa yang akan terjadi sampai hari kiamat nanti, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Q.S al-Hajj: 70. Allah juga telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, serta tiada satu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya dan Allah lah pencipta segala sesuatu. Akan tetapi, Allah juga memberikan kepada manusia kehendak dan kemampuan di dalam perbuatannya. Hal itu dibuktikan dengan beberapa dalil, yaitu:

  1. Firman Allah dalam Q.S al-Baqarah: 223 dan at-Taubah: 46. Allah menegaskan bahwa manusia melakukan suatu perbuatan dalam konteks ayat diatas bercocok tanam (Q.S al-Baqarah: 223) dan menyiapkan persiapan (Q.S at-Taubah: 46) sesuai dengan kehendak dan keinginan manusia itu sendiri.
  2. Adanya perintah dan larangan kepada manusia. Hal itu menunjukkan bahwa manusia diberi kehendak dan kemampuan untuk melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Adanya pujian kepada orang yang berbuat baik dan celaan kepada orang yang berbuat buruk. Seandainya manusia tidak memiliki andil dalam perbuatannya, maka pujian kepada yang berbuat baik adalah sia-sia dan celaan kepada yang berbuat buruk adalah kezhaliman.
  4. Allah mengutus para rasul agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Q.S an-Nisa: 165. Andai saja manusia tidak punya kehendak atas perbuatannya, maka tidak akan ditolak alasan mereka meski telah diutus para rasul.

Syaikh Muhammad Abduh dalam kitabnya Risalah at-Tauhid memberikan dua kunci yang dapat membimbing manusia atas amal perbuatannya:

  1. Bahwa manusia mempunyai usaha yang bebas dengan kemauan dan kehendaknya untuk mencari jalan yang dapat membawakannya kepada kebahagiaan.
  2. Bahwa kodrat Allah tempat kembalinya segala makhluk. Allah sanggup memisahkan antara manusia dan keinginannya, dan tidak ada yang mampu menolong manusia dari hal yang tidak mungkin dicapainya kecuali Allah.

Kesimpulannya adalah bahwa manusia adalah makhluk muyassar sekaligus mukhayyar. Muyassar artinya manusia seperti benda, tanaman, dan hewan yakni tidak mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak (tidak memiliki ikhtiar). Mukhayyar artinya manusia memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak (memiliki ikhtiar). Perkara yang manusia tidak memiliki ikhtiar di dalamnya adalah seperti tentang dia dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, dilahirkan dari anak si A atau si B, warna kulitnya, ukuran tubuhnya, kematian dan lain sebagainya. Sedangkan perkara yang manusia memiliki ikhtiar di dalamnya adalah seperti upaya memilih jalan kebaikan atau keburukan, upaya menuntut ilmu, upaya mencari rezeki, upaya menjaga kesehatan dan lain sebagainya.

Alfandi Ilham S.Ag
Kabid Dakwah Dan Pengkajian Agama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tompeyan

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?