Blog

Salah seorang imam besar yakni Imam Syafi’i rahimahullah telah memberikan kepada kita nasehat-nasehat yang begitu indah, yang insya Allah apabila kita tunaikan isi yang terkandung di dalamnya niscaya kita akan mendapatkan manfaat.

Salah satu dari sekian banyak nasehat beliau adalah.

اِصْبِر على مُرِّ الجَفَاءِ مِن مُعَلِّمٍ
فَإِن رُسُوبَ العلم نفارتهِ

ومن لم يَذُق مرَّ التعلُّم ساعةً
تجرَّعَ ذُلَّ الجهلِ طُول حياتهِ

ومن فاتَه التعليمُ وَقْتَ شبابِهِ
فكبِّر عليه أرْبعًا لِوفاتِه

وذاتُ الفتى والله بالعلم والتقّى
إذا لم يكونا لا اِعْتِبارَ لِذاتِه

“Sabarlah engkau akan pahitnya seorang guru (cara mengajarnya yang tegas/keras)
Sebab mantapnya ilmu dengan membersamainya.

Barangsiapa yang enggan merasakan pahitnya belajar.
Maka ia akan bodoh selama hidupnya.

Barangsiapa ketinggalan belajar (tak mau belajar) pada masa mudanya.
Maka Bertakbirlah empat kali atas wafatnya (anggap saja mati).

Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu dan bertakwa.
Apabila kedua hal tersebut tidak ada padanya maka ia tak akan bermakna.”
(Diwan Asy-Syafi’i)

Mari kita selami makna yang terkandung di dalamnya.
Seorang Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Asy Syafi’i tidak akan menjadi Imam Asy Syafi’i yang dikenal oleh kaum muslimin hingga kini apabila beliau belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu.

Bagaimana beliau tumbuh dalam keadaan yatim dan fakir ketika tinggal di Gaza, Palestina.
Hingga kemudian ibunya membawa beliau ke Mekkah ketika berusia dua tahun untuk memperkenalkannya pada ilmu agama. Hingga di usia tujuh tahun beliau hafal Al-Qur’an, dan kemudian menuntut ilmu hadits, lalu menghafal kitab al-Muwaththo’ karya Imam Malik seorang ulama besar kota Madinah & Makkah di usia dini.

Semua riwayat menunjukkan bahwa sejak kecil beliau adalah seorang yang gandrung akan ilmu.
Beliau pernah berkata, “Sesungguhnya cita-cita ku hanya ada dua, pandai memanah dan berilmu. Dalam hal memanah aku telah menjadi orang yang ketika melepaskan sepuluh anak panah, maka semuanya tepat mengenai sasaran.” Kemudian beliau diam, tidak melanjutkan tentang cita-cita yang satunya yakni ilmu. Sebagian yang hadir di situ kemudian berkata, “Demi Allah, dalam hal ilmu anda lebih unggul dari pada dalam hal memanah.

Bagaimana sifat kesungguhan yang ada dalam diri beliau, pastilah pahit getirnya rasa yang didapat ketika menjalaninya senantiasa silih berganti menghampiri, namun beliau bersabar.
Sampai pada akhirnya, nama beliau harum dari zaman dulu hingga sekarang, atas dasar apa?.
Atas bekal ilmu dan ketakwaan yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita Taufiq dalam dalam belajar di masa muda.

Rujukan: Biografi Empat Imam Mazhab.
-Abdul Aziz Asy-Syinawi-

Eko Sumardianto.
Mahasiswa Mahad Ali bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Internasional Open University.

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?