Blog

Harta adalah satu satu rezeki yang Allah titipkan kepada hambanya untuk dikelola dengan baik dan benar. Tak jarang beberapa orang tatkala diberikan harta yang berlimpah kurang tepat dalam membelanjakannya sehingga terkesan berlebih-lebihan dan sia-sia. Bahkan, ada beberapa orang yang secara ekonomi tidak terlalu baik tetapi karna menuruti gengsi sehingga dia membelanjakan hartanya tanpa memperdulikan prioritas. Lalu bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?. Rasulullah saw telah memberikan nasehat kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah riyawat hadis Rasulullah saw bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا غَيْرَ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ وَقَالَ يَزِيدُ مَرَّةً فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan.” Kesempatan lain Yazid berkata: “dengan tidak isrof (berlebihan), dan tidak sombong.” (HR Ahmad).

Ibnu Abbas pernah berkata “makanlah,minumlah,dan berpakaianlah  dengan segala yang kamu inginkan! Dengan dasar jangan sampai ada dua perkara yaitu berlebihan dan sombong. diantara karakteristik berlebihan adalah ketika seseorang berpakaian, minum, dan makan apa yang tidak ada di sekitarnya. Menurut kami perkataan “yang tidak ada sekitarnya” adalah imlpikasi akan ketidak punyaan. Jadi pendapat ini merupakan anjuran untuk meninggalkan sikap konsumtif dengan cara qanaah atau menerima apa adanya. Pendapat yang lain menyambungkannya dengan zuhud, karena zuhud hakikatnya merupakan mencegah dari kemaksiatan dan dari sesuatu yang melebihi keperluan (konsumtif). Adapun zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dan segala kenikmatannya, dengan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Ibnu Qudamah berpendapat bahwa zuhud merupakan pengalihan keinginan dari sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik. Adapun Imam al-Qusyairi mengartikan zuhud ialah tidak merasa bangga dengan kemewahan yang ada di tangan.

Pengertian mengenai zuhud tersebut sesuai dengan hadis di atas yang mana Rasulullah saw memberikan peringatan kepada umatnya agar dalam menghadapi dunia dan membelanjakan harta tetap pada batas yang normal dan tidak cenderung sombong serta berlebih-lebihan. Sifat konsumtif dalam hadis di atas diungkapkan dengan lafaz “isrof”. Hal ini sedana dengan firman Allah Ta’ala dalam Q.S al-Isra’: 26-27, yaitu:

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (26) Sesungguhnya orang-orang yang pemboros adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (27).”

Ibnu Asyur dalam kitabnya at-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan bahwa arti tabdzir sama dengan isrof yaitu membelanjakan harta dengan tidak tepat sasaran. Lebih luas lagi tabdzir memiliki dua macam makna, yaitu membelanjakan harta di jalan keburukan atau kemaksiatan walaupun hanya sedikit dan membelanjakan harta dalam perkara yang mubah (boleh) tetapi berlebih-lebihan atau boros (konsumtif). Perlu diperhatikan bahwa tidak ada tabdzir atau isrof dalam hal kebaikan. Sebagaimana dijelaskan Imam ath-Thabari dalam tafsirnya mengkutip pendapat Mujahid bahwa walaupun seseorang menginfakkan seluruh hartanya di jalan kebaikan maka itu tidak dikatakan tabdzir/isrof. Dalam membelanjakan harta perlu memperhatikan aspek prioritas yakni kebutuhan yang sifatnya primer (Dharuriyat), sekunder (Hajiyat) dan tersier (Tahsiniyat), agar kebutuhan dapat terpenuhi sesuai dengan urutannya dan tetap tidak berlebih-lebihan.

Adapun menurut pandangan Ekonomi, konsumtif adalah gaya hidup yang membelanjakan uangnya pada hal yang tidak perlu, pada kebutuhan-kebutuhan imajiner. Menurut pandangan Psikologi, pola hidup konsumtif adalah produk kebudayaan hedonis dari sebuah masyarakat yang sakit atau setidaknya tengah mengalami benturan kebudayaan, pola hidup ini terbentuk secara sadar atau tidak sadar berasal dari pola hidup yang dijalani manusia setiap harinya. Merujuk pada pengertian konsumtif di atas bahwa perilaku konsumtif berusaha menjelaskan kenginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Seseorang dapat dikatakan konsumtif apabila seseorang tersebut melakukan hal-hal sebagai berikut: pemborosan, inefisiensi biaya, mengikuti mode dan mengharap pengakuan sosial.

Kesimpulannya adalah bahwa perilaku konsumtif atau berlebih-lebihan yang dalam bahasa al-Qur’an dan Hadis disebut sebagai tabdzir/isrof adalah sesuatu yang haram. Bahkan, pelaku tabdzir/isrof oleh al-Qur’an disebut sebagai teman setan. Walaupun harta yang kita dapatkan berasal dari cara yang halal, akan tetapi cara membelanjakan harta tetap harus di jalan yang benar. Belanjakanlah harta untuk memenuhi kebutuhan hidup, janganlah berlebih-lebihan di dalamnya dan jangan merasa sombong serta angkuh dengan harta yang dimiliki. Pada hakikatnya orang kaya ialah orang yang sedikit kebutuhannya dan kekayaan yang hakiki adalah mencukupkan dengan apa yang ada. Rasulullah saw bersabda: “Qana’ah itu adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap.” (HR Thabrani).

Alfandi Ilham S.Ag
Kabid Dakwah Dan Pengkajian Agama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tompeyan

 

 

 

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?