Blog

Ismail Raji al Faruqi lahir di Jaffa, Palestina 1 Januari 1921. Ayahnya bernama Abdul Huda al-Faruqi, seorang laki-laki yang religius dan qodi terpandang di Palestina. Selama hidupnya, al-Faruqi adalah sosok yang produktif, lebih dari dua puluh buku dalam berbagai bahasa telah ditulisnya, dan tidak kurang dari seratus artikel telah dipublikasikan. Seluruh tulisannya pada dasarnya adalah gagasan-gagasan cerah dan teorinya untuk memperjuangkan proyek integrasi ilmu, yang dikemas dalam bingkai besar Islamisasi Ilmu pengetahuan. Namun, pada tulisan kali ini tidak fokus membahas konsep Islamisasi Ilmu, melainkan tentang konsep Tauhid yang dicetuskan oleh al-Faruqi sebagai landasan dasar dalam membangun paradigma Islamisasi Ilmu-nya.

al-Faruqi menekankan bahwa peradaban Islam adalah Islam itu sendiri dan pokok ajaran Islam adalah tauhid, yakni pengesaan terhadap Yang Maha Pencipta, yaitu Dzat pencipta mutlak dan transenden dan penguasa segala yang ada. Tauhid harus menjadi ruh yang memancar dalam kehidupan setiap muslim, sekaligus sebagai turbin penggerak aktivitas umat Muslim. Tauhid bukan hanya formalitas pengakuan dengan media lisan untuk berikrar akan keasaan Allah serta kenabian Muhammad saw. Walaupun ikrar dan syahadat oleh seorang muslim memiliki konsekuensi terhadap sejumlah aturan hukum di dunia, namun tauhid yang merupakan sumber kebahagiaan abadi manusia dan kesempurnaannya, tidak hanya berhenti pada lisan semata, melainkan tauhid harus menjadi realitas batin dan keimanan yang berkembang di dalam hati.

Al-Faruqi menegaskan bahwa esensi pengetahuan dan kebudayaan Islam ada pada agama Islam itu sendiri. Sedangkan esensi Islam adalah Tauhid. Artinya bahwa Tauhid sebagai prinsip penentu pertama dalam Islam. Tauhid inilah yang memberikan identitas pada peradaban Islam, yang mengikat semua unsurnya bersama-sama dan menjadikan unsur-unsur tersebut sebagai satu kesatuan yang integral dan organis. Tauhid merupakan perintah Tuhan yang tertinggi dan paling tinggi, hal ini dibuktikan oleh kenyataan adanya janji Tuhan untuk mengampuni segala dosa kecuali pelanggaran terhadap Tauhid.

Tidak ada perintah dalam Islam yang bisa dilepaskan dari Tauhid. Seluruh agama itu sendiri, kewajiban manusia untuk menyembah Tuhan, perintah mematuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya akan hancur begitu Tauhid dilanggar. Oleh karena itu, bepegang teguh pada prinsip Tauhid merupakan suatu keniscayaan dan merupakan pondasi dari seluruh kesalehan, religiusitas dan kebaikan. Seorang muslim dapat didefinisikan dengan kepatuhannya kepada Tauhid, dengan pengakuannya akan keesaan dan transendensi Allah sebagai prinsip tertinggi dari seluruh ciptaan, wujud dan kehidupan.

Tauhid tidak hanya menekankan pada kesalehan individu semata, melainkan juga menjadi prinsip tata sosial. Islam mengajarkan bahwa sholat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar adalah sia-sia dan ibadah haji yang tidak mendatangkan manfaat sosial bagi para pelakunya adalah tidak sempurna. Berpegang pada Tauhid berarti menghayati perintah Tuhan sebagai kewajiban dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam perintah tersebut. Al-Faruqi menegaskan bahwa tidak mungkin ada Tauhid tanpa keluarga. Keluarga ini yang menjadi embrio terbentuknya komunitas yang lebih besar lagi, sehingga internalisasi nilai-nilai Tauhid dalam keluarga menjadi harapan munculnya komunitas Tauhid secara global.

Untuk membumikan gagasannya tentang Islamisasi ilmu, al-Faruqi meletakkan dasar epistemologinya pada prinsip tauhid yang terdiri dari lima macam kesatuan, yaitu sebagai berikut:

  1. Kesatuan (keesaan) Tuhan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang menciptakan dan memelihara semesta. Implikasinya, berkaitan dengan pengetahuan adalah bahwa sebuah pengetahuan bukan untuk menerangkan dan memahami realitas sebagai entitas yang terpisah dari Realitas Absolut (Tuhan). Akan tetapi, melihatnya sebagai bagian yang integral dari eksistensi Tuhan yang menghendaki adanya hubungan realitas antara objek kajian ilmu dengan hukum Tuhan.
  2. Kesatuan ciptaan, bahwa semesta yang ada ini baik yang material, psikis, spasial (ruang), biologis, sosial, maupun estetis adalah kesatuan yang integral. Masing-masing saling berkaitan dan saling menyempurnakan dalam ketentuan hukum alam (sunnatullah) untuk mencapai tujuan akhir tertinggi, Tuhan. Maka, kaitannya dengan Islamisasi ilmu adalah bahwa setiap penelitian, pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan harus diarahkan dan ditujukan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepada-Nya.
  3. Kesatuan kebenaran dan pengetahuan. Kebenaran bersumber pada realitas, dan jika semua realitas berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan, maka kebenaran tidak mungkin lebih dari satu. Maksudnya adalah apa yang disampaikan lewat wahyu tidak mungkin berbeda apalagi bertentangan dengan realitas yang ada, karena Dia-lah yang menciptakan keduanya.
  4. Kesatuan hidup. Al-Faruqi berpendapat bahwa kehendak Tuhan terdiri atas dua macam, yaitu hukum alam (sunnatullah) dan hukum moral yaitu agama. Kedua hukum ini berjalan seiring, senada dan seirama dalam kepribadian seorang Muslim. Maka, konsekuensinya adalah tidak ada pertentangan antara spiritual (ruhani) dan material (jasmani).
  5. Kesatuan manusia. Menurut al-Faruqi tata sosial Islam merupakan sesuatu yang universal yakni mencakup seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Meski demikian, Islam tidak menolak adanya ragam atau klasifikasi dan stratifikasi natural manusia seperti adanya suku, bangsa dan ras. Yang ditolak Islam adalah paham etnosentrisme yang mendasarkan kebaikan atau keburukan pada etnisnya. Dalam konteks Islamisasi ilmu, paham ini mengajarkan bahwa setiap pengembangan ilmu harus berdasar dan bertujuan untuk kepentingan kemanusiaan, bukan hanya sebatas golongan atau kelompok etnis tertentu.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa al-Faruqi memang mendasarkan pemahaman Islamnya pada doktrin Tauhid, yang memadukan penegasan klasik sentralis keesaan Tuhan (monoteisme) dengan interpretasi  modernis (ijtihadi) dan penerapan Islam dalam kehidupan modern. Tauhid inilah yang menjadi esensi pengalaman keagamaan, inti Islam dan prinsip sejarah, pengetahuan, sains, etika, estetika, umat, keluarga serta tatanan politik, sosial dan ekonomi.

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?