Blog

Pada asasnya kita sebagai manusia hidup pada sebuah tatanan hukum, dimana hukum itu mau tidak mau manusia hidup didalamnya, Allah ﷻ berfirman didalam surat Al-Hijr ayat 21:

وإن من شيء إلا عندنا خزائنة : الحجر ٢١
dan tidak ada satu sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanah (pembendaharaan)nya (Qs. Al-Hijr : 21)

dalam ayat ini ada beberapa poin yang bisa kita petik, diantaranya adalah segala sesuatu tidak dapat diminta kecuali kepada Sang Pemilik segala pembendaharaan yaitu Allah ﷻ. Karena Dialah Yang memiliki segala hal yang ada di dunia ini, sehingga siapapun yang memiliki kebutuhan dan mengharap selain-Nya, maka dia sedang menghamba kepada makhluk yang tak memiliki kekayaan dan kekuatan, dia menghamba kepada sosok yang lemah yang sedikitpun tak mampu mewujudkan keinginan hamba tersebut kecuali atas ijin-Nya.

Dalam tafsir as-sa’di dikatakan:
أي: جميع الأرزاق وأصناف الأقدار لا يملكها أحد إلا الله، فخزائنها بيده يعطي من يشاء، ويمنع من يشاء، بحسب حكمته ورحمته الواسعة، { وَمَا نُنَزِّلُهُ } أي: المقدر من كل شيء من مطر وغيره، { إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ } فلا يزيد على ما قدره الله ولا ينقص منه.

Maksudnya, seluruh rizki dan macam-macam takdir, tidak ada seorang pun yang mengendalikannya kecuali Allah ﷻ. Pembendaharaan kekayaan ada di Tangan-Nya, Allah memberi kepada orang yang dikehendaki dan menahan (rizki) dari orang yang dikehendaki-Nya, tergantung pada sifat hikmah dan rahmatNya yang luas. {وَمَا نُنزلُهُ}”Dan Kami tidak menurunkannya”, yaitu seluruh perkara yang telah ditetapkan, misalnya hujan dan lainnya, {إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ}”melainkan dengan ukuran tertentu”, sehingga tidak melebihi kapasitas yang telah ditentukan Allah dan tidak pula menyusut dari-nya.

Kemudian Allah juga berfirman:
وأن إلى ربك المنتهى : النجم ٤٢
Dan sesungguhnya kepada Rabbmulah kesudahannya (segala sesuatu). (Qs. An-Najm:42)

Dalam tafsir As-sa’di dikatakan:

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى أي: إليه تنتهي الأمور، وإليه تصير الأشياء والخلائق بالبعث والنشور، وإلى الله المنتهى في كل حال، فإليه ينتهي العلم والحكم، والرحمة وسائر الكمالات.

Allah ﷻ berfirman, وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى “Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu),” artinya, kepada-Nya segala urusan berakhir dan kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah ﷻ dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah ﷻ lah segala hal berakhir, kepada-Nya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.

Ayat tersebut menyimpan pesan begitu dalam, yaitu segala kebutuhan, hajat, cita-cita yang tidak ditujukan kepada-Nya maka hal tersebut adalah sia-sia, karena semua ujungnya kita hanya kembali kepada Allah ﷻ, kepada-Nyalah segala hal berakhir.

Maka pada akhir pembahasan kami mengutip perkataan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah :

Semua urusan pasti akan berpulang kepada pencipta-Nya,kehendak-Nya,hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Allah ﷻ adalah puncak segala tujuan dan seluruh keinginan hamba. Mencintai segala sesuatu bukan karena-Nya akan mengakibatkan keletihan dan siksa. Seluruh perbuatan yang tidak ditujukan untuk-Nya akan sia-sia dan percuma. Setiap hati yang tidak terkait dengan-Nya akan celaka, dan yang terparah ia terhalang dari mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan (Al-Fawaid).

Sumber:
Tafsir As-sa’di
App Tafsir Quran Tadabbur
Al-Fawaid

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?