Blog

Problematika mengenai hisab dan rukyat hingga dewasa ini masih belum menemui titik terang. Masing-masing masih tetap berpegang pada apa yang mereka yakini kebenarannya. Muhammadiyah merupakan salah satu ormas Islam yang memilih untuk menggunakan hisab sebagai penetapan awal bulan kamariah. Ada beberapa hal yang menjadi landasan bagi kelompok yang berpegang pada hisab sebagai metode penentuan awal bulan kamariah. Dalam Q.S ar-Rahman ayat 5 Allah berfirman yang artinya “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”, juga dalam Q.S Yunus ayat 5 yang artinya “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi bulan itu manzilah-manzilah, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa bulan dan matahari memiliki sistem peredaran yang dapat dihitung yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Apa yang telah Allah firmankan tersebut bukan hanya sekedar sebagai informasi bagi manusia, melainkan suatu isyarat agar manusia memanfaatkan peredaran matahari dan bulan itu sebagai pedoman dalam menentukan perhitungan tahun dan waktu secara umum.

Selain isyarat yang terdapat di dalam al-Qur’an, terdapat hadis Nabi saw yang menyatakan bahwa umat muslim saat itu masih dalam keadaan ummi. Nabi saw bersabda “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang 29 hari, kadang-kadang 30 hari” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini merupakan sebuah ‘illat (alasan hukum) mengapa Nabi saw memerintahkan melakukan rukyat untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Keadaan dimana umat muslim pada saat itu yang masih belum menguasai ilmu baca tulis dan hisab, sehingga yang paling relevan dan terjangkau untuk mengetahui awal bulan kamariah adalah dengan rukyat. Dengan demikian sesuai kaidah fikih “Hukum berlaku menurut ada atau tidaknya ‘illat” apabila keadaan umat muslim telah berubah yaitu telah menguasai ilmu baca tulis dan hisab seperti sekarang maka tidak lagi relevan menggunakan rukyat. Hal itu disebabkan hisab merupakan sarana yang lebih pasti dan dapat mewujudkan penyatuan kalender Islam global. Bahkan berdasar hadis tersebut beberapa fukaha merumuskan kaidah “الأصل في إثبات الشهر أن يكون بالحساب” yaitu pada dasarnya penetapan bulan kamariah itu adalah dengan hisab.

Selain hadis mengenai umat muslim yang masih ummi, terdapat juga hadis Nabi saw yang memberikan isyarat untuk melakukan hisab. Nabi saw bersabda “… jika bulan di atasmu tertutup awan, maka estimasikanlah” (HR Bukhari dan Muslim). Perintah Nabi saw pada akhir hadis untuk melakukan estimasi atau “فاقدرواله” diartikan sebagai perhitungan dengan hisab astronomi. Pendapat tersebut yang dipegang oleh Ibnu Suraij, Syaikh Syaraf al-Qudah dan para penganut hisab lainnya. Kemudian, selain berlandaskan pada isyarat yang ada pada al-Qur’an dan Hadis Nabi saw, penggunaan hisab juga didasarkan pada pemahaman bahwa rukyat hanyalah sarana bukan merupakan ibadah. Konsekuensi bahwa rukyat hanya sebatas sarana dalam menentukan bulan kamariah, sehingga apabila terdapat sarana yang lebih baik dan lebih tepat dalam hal ini adalah hisab, maka yang dipakai tentu hisab.

Tak jarang kelompok yang masih menggunakan rukyat dan tidak sepakat dengan hisab mengkutip pendapat para fukaha terdahulu sebagai landasan untuk menolak hisab bahkan tak jarang menganggap sesat pengguna hisab. Ibnu Hajar mengkutip Ibnu Bazizah yang mengatakan bahwa menerima hisab adalah “Suatu madzhab yang bathil, syariah melarang melibatkan diri dalam ilmu perbintangan karena merupakan spekulasi dan kira-kira, yang tidak mengandung kepastian dan dugaan kuat”. Az-Zarqani dalam Syarh al-Muwaththa’ mengkutip pendapat Imam Nawawi bahwa tidak dipeganginya hisab karena hisab tersebut bersifat spekulatif, yang dipegangi hanyalah bagian yang berkaitan dengan penentuan arah kiblat dan waktu-waktu sholat saja. Ibnu Battal mengatakan bahwa beliau tidak menulis dan melakukan hisab, yang dipegangi ialah rukyat hilal. Ibnu Battal melarang hisab yang sifatnya menduga-duga dan mengungkap benda-benda yang berada di luar jangkauan mata. Kemudian pendapat dari Ibnu Taimiyah yang mengatakan “Menerima hukum-hukum perbintangan adalah bathil menurut akal dan haram menurut syarak. Hal itu adalah karena gerakan lintasan benda-benda langit, meskipun ada pengaruhnya, tidaklah berdiri sendiri. Tetapi pengaruh roh-roh dan malaikat lainnya lebih kuat dari pengaruh lintasan benda langit itu dan begitu pula pengaruh benda-benda langit yang berada di atas bumi”.

Terdapat beberapa argumen yang dapat menjelaskan mengapa para fukaha terdahulu berpendapat demikian, yaitu:

  1. Pendapat para fukaha mengenai ilmu hisab didasarkan pada kondisi ilmu hisab itu sendiri di masa itu. Ilmu hisab pada masa para fukaha terdahulu masih bersifat spekulatif, hal itu dikarenakan belum didasarkan pada observasi akurat dengan sarana-sarana yang canggih. Pada zaman itu belum ada observatorium besar yang dilengkapi dengan lensa kaca pembesar yang dapat mendekatkan objek yang jauh sampai pada tingkat yang tidak terbayangkan pikiran.
  2. Pada zaman itu juga terdapat masalah mengenai adanya percampuran antara ilmu hisab dengan ilmu peramalan, penujuman, pertenungan dan sihir. Sehingga hal tersebut menyebabkan keraguan dikalangan para fukaha.
  3. Adapun pada zaman sekarang, ilmu falak (astronomi) telah terpisah dari ilmu-ilmu peramalan, penujuman dan pertenungan. Kemajuan ilmu astronomi dan tekhnologi pada masa saat ini juga sudah sangat berbeda dengan masa para fukaha terdahulu hidup. Ilmu falak pada masa modern ini yang telah didasarkan pada observasi dan didukung dengan alat-alat canggih sehingga menghasilkan perhitungan astronomis yang akurat dan terpercaya sudah tidak perlu diragukan lagi keabsahannya. Dengan adanya perubahan yang signifikan tentu tidak pantas apabila pendapat para fukaha terdahulu mengenai ilmu hisab dengan serta merta ditelan mentah-mentah untuk menghukumi ilmu hisab di era modern ini.

 

Alfandi Ilham S.Ag

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?