Blog

Allah telah menciptakan Nabi Adam alaihi sallam beserta Ibunda Hawa dan kemudian keduanya ditempatkan di surga. Selama di surga, mereka berdua mendapatkan kenikmatan yang luar biasa sebagaimana Allah gambarkan dalam surat Taha ayat 118-119:

اِنَّ لَكَ اَلَّا تَجُوْعَ فِيْهَا وَلَا تَعْرٰى ۙ وَاَنَّكَ لَا تَظْمَؤُا فِيْهَا وَلَا تَضْحٰى

Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang.(118).  Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (119)

Allah telah menyediakan fasilitas yang sempurna kepada mereka berdua, semua fasilitas diberikan dan dipersilahkan untuk dinikmati dan hanya satu perkara yang tidak boleh dilanggar yakni mendekati sebuah pohon, namun sayangnya walaupun hanya satu larangan akan tetapi justru dilanggarnya. Hal ini menjadikan Allah murka, kemudian mereka berdua dihukum dengan dikeluarkannya dari surga dan ditempatkan di dunia.

Kehidupan di surga tentulah berbeda dengan kehidupan di dunia. Kehidupan di surga, manakala penghuninya meginginkan sesuatu maka tidak perlu bersusah payah. Sebaliknya, kehidupan dunia manakala penghuninya menginginkan sesuatu harus bersusah payah, berletih-letih dan melewati berbagai penderitaaan terlebih dahulu.

Ketika Allah menghukum Nabi Adam alaihi sallam beserta istrinya, tidak serta merta keduanya hanya dihukum begitu saja.  Allah menghukum mereka namun juga dengan kasih sayangnya Allah memberikan bekal petunjuk bagi keduanya agar bisa selamat baik di dunia hingga kembali ke akherat kelak. Allah telah berfirman :

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 38).

Manakala Nabi Adam Alaihi sallam di tempatkan di dunia sebagai tempat hukumannya, hari-harinya dipenuhi penyesalan, kemudian beliau habiskan dengan susah payah untuk bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Beliau berdoa :

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”  (QS. Al A;raf: 23).

Kisah Nabi Adam alaihi sallam tersebut merupakan pelajaran yang berharga bagi kita semuanya. Bahwasanya kehidupan dunia adalah tempat yang penuh susah payah dan melelahkan. Beramal shalih itu dilakukan melalui penderitaan dan juga kelelahan, hal ini juga tak jauh beda dengan amal maksiat juga akan menjadikan diri pelakunya lelah. Seseorang menjadi panitia pembangunan masjid itu sungguh melelahkan, dan juga seseorang yang menjadi panitia kegiatan kemaksiatan juga melelahkan. Namun lelahnya seseorang dalam beramal shalih tentu saja berbeda dengan lelahnya orang yang berbuat kemaksiatan dan kesia-sian.

Allah berfirman :

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

Allah telah mengilhamkan kepada jiwa seseorang berupa kefajiran dan ketakwaan. Dalam hal ini Allah telah memberikan kebebasan kepada diri seseorang untuk memilih bersusah payah dalam kemaksiatan atau bersusah payah dalam ketaatan. Tentu saja semua pilihan itu ada konsekuensinya, ada pertanggung jawabannya.

Allah berfirman dalam ayat selanjutnya :

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya,  dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syam: 9-10)

Sungguh beruntung orang yang berletih-lelah untuk mensucikan jiwanya dengan beramal shalih sebagai wujud ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan diantara amal sholih itu adalah apa yang tertuang dalam surat As-saff ayat 11:

تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ  “Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”

Beriman kepada Allah adalah memurnikan ibadah secara ikhlas hanya kepada Allah semata, beriman kepada rasulullah adalah melakukan ibadah yang mutaba’ah yakni ibadah dengan cara mengikuti tata cara yang telah beliau contohkan dan ajarkan. Kemudian dibuktikan dengan berjihad melalui harta dan jiwa kita. Berjihad tidak diartikan secara sempit yakni hanya melalui peperangan. Berjihad bisa juga diartikan sebagai kesungguhan kita manakala kita belajar menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan pada diri kita, berjihad manakala kita mencari rizki secara halal dan hasilnya digunakan untuk menafkahi anak-istri, supaya bertambah kesyukurannya kepada Allah Azza wa Jalla dan lain sebagainya.

Pada intinya setiap amal shalih itu pastilah melelahkan, butuh pengorbanan dan perjuangan. Namun demikian yakinlah setiap lelah yang dilandasi ketakwaan akan dibalas Allah dengan kebahagiaan. Allah menjajikan,

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ

“Niscaya Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.”

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk pada diri kita untuk condong dalam ketaatan dan semoga diri kita diberikan kesabaran dalam mengusahakannya.

Letih dan lelahnya kita dalam melakukan berbagai kegiatan di dunia ini akan berdampak pada nasib kita di akherat kelak. Ada lelah yang nantinya terbayarkan dengan kenikmatan sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ

“Pada hari itu banyak wajah yang berseri-seri, merasa senang karena usahanya”.

Namun ada juga lelah di dunia justru akan menyebabkan bertambah lelah dan penderitaannya di akherat. Allah berfirman :

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

“Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina, (karena) bekerja keras lagi kepayahan,”

Tentu saja kita semua berharap lelah kita di dunia akan berbuah manis di akherat kelak. Di sisi yang lain waktu yang kita miliki semakin sedikit. Satu persatu orang yang kita cintai meninggalkan kita dan pada saatnya nanti giliran kita yang akan meninggalkan mereka. Janganlah tanyakan kapan waktu itu tiba, tapi tanyakanlah pada diri kita persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk menyambutnya. Sudahkah waktu yang tersisa ini kita maksimalkan untuk berletih lelah dalam ketaatan? Yang bisa menjawab adalah diri kita masing-masing.

Heru Abu Ahmad (Mahasiswa Mahad Ali bin Abi Thalib UMY)

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?