Blog

Al-Qur’an karim turun kepada Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis) karena  itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan  untuk sekedar  menghafal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai  Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah itu membacakan kepada orang-orang dengan begitu tenang, agar mereka pun dapat menghafalnya  serta memantapkannya. Dengan demikian ada tiga (3) faktor yang menyebabkan Al-Qur’an tidak  dibukukan dimasa Rasul dan sahabat. Pertama, kondisinya tidak membutuhkan karena kemampuan mereka yang besar untuk memahami Al-Qur’an dan Rasul dapat menjelaskan maksudnya. Kedua, para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis. Ketiga, adanya larangan Rasul  untuk  menuliskan  Al-Qur’an. Semuanya ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik dimasa Nabi maupun di zaman sahabat.

Sejak Nabi melaksanakan fungsi dakwah secara aktif, di kota Mekkah, telah didirikan lembaga pendidikan di mana Nabi memberikan pelajaran tentang ajaran Islam secara menyeluruh dirumah-rumah dan masjid-masjid. Di dalam masjid-masjid berlangsung proses belajar-mengajar berkelompok dalam “Halaqah” dengan masing-masing gurunya terdiri dari para sahabat Nabi. Ada beberapa materi pengajaran al-Qur,an yang diajarkan Rasulullah kepada sahabatnya, dalam materi ini dirinci kepada 3 yaitu: pertama, materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla` dan iqra`), kedua, materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan ketiga, materi pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmil al-Qur`an atau tafsir al-Qur`an.

  1. Sejarah Pembelajaran Al-Quran Periode Makkah

Periode ini merupakan masa pembinaan dan pemantapan ke dalam serta penyusunan kekuatan dakwah. Oleh karena itu, materi-materi dakwah pada periode ini lebih menitikberatkan kepada masalah aqidah dan keimanan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa ayat-ayat al-Quran yang diturunkan pada periode ini umumnya berkaitan dengan masalah tersebut.

Para sahabat as-sabiqun ila al-islam adalah orang-orang pertama yang mendengar dan mempelajari al-Quran dari Nabi, seperti isteri beliau Khadijah, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abu Bakar. Pada mulanya dakwah Islam disampaikan secara sembunyi-sembunyi melalui dialog dan pembicaraan dari hati ke hati. Nabi menggunakan metode ini untuk berdakwah kepada keluarga sendiri yang berada satu rumah dengannya, kemudian terhadap tetangganya dan kenalan-kenalan akrabnya dengan pendekatan personal.

Karena jumlah orang-orang yang memeluk Islam sudah mencapai sekitar 25 orang, Nabi menambah metode dakwah baru penyebaran Islam dengan menyelenggarakan pengajaran klasik secara tetap di rumah kediaman sahabat Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Adapun materi yang disampaikan di tempat itu difokuskan pada masalah keimanan, akhlak dan latihan menghafal ayat-ayat al-Quran yang telah diwahyukan. Rumah itu tak jauh dari Ka‘bah. Ia terletak di selatan bukit Shafa. Menurut Ali Mustafa Yaqub, ada dua faktor yang menjadikan Nabi Muhammad memilih tempat ini, pertama, tempat ini dekat dengan Ka‘bah, sehingga memudahkan para sahabat untuk beribadah di al-Masjid al-Haram. Kedua, karena faktor keamanaan barangkali menjadi pertimbangan Nabi dari pada seandainya beliau mengajar di rumah beliau sendiri. Di antara sahabat yang mengajarkan hafalan dan bacaan al-Quran di Makkah selain Rasulullah adalah sahabat Khabbab bin al-Artt. Ia mendatangi muridnya dari rumah ke rumah, sehingga dapat juga dikatakan dia salah satu guru privat al-Quran di periode Makkah. Dia memeluk Islam sebelum adanya pengajian di rumah Al-Arqam. Para sahabat yang menjadi muridnya antara lain adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud, Sa‘id bin Zaid dan Fathimah bint al-Khattab.

Di antara hasil kegiatan pendidikan dan dakwah Nabi dan sahabat adalah sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, al-Quran telah tersebar dan dihafal oleh beberapa kabilah yang berasal dari luar kota Makkah, Zaid bin Tsabit yang berusia 11 tahun sudah menghafalkan 17 surah dari al-Quran, al-Barra’ yang sudah mengenal surah al-A‘la dan beberapa surah al-mufassal (dari surah Qaf hingga akhir seluruh al-Quran) sebelum Nabi sampai ke Madinah dan Rafi’ bin Malik al-Ansari yang termasuk orang pertama yang membawa surat Yusuf ke Madinah, bahkan dalam riwayat lain dijelaskan bahwa beliau mengambil dari Nabi apa yang telah turun kepadanya selama 10 tahun, kemudian Rafi’ bin Malik mengkumpulkan keluarganya di Madinah dan membacakanya kepada mereka.

  1. Sejarah Pembelajaran Al-Quran Periode Madinah

Madinah pada masa pra-Islam disebut Yatsrib. Setelah hijrah kota ini menjadi rumah Nabi Muhammad. Periode Madinah (pasca-hijrah) merupakan periode pembentukan masyarakat Islam, yaitu masyarakat yang menerapkan ajaran-ajaran dan sistem Islam, walaupun di antara warganya terdapat orang-orang yang bukan Muslim. Ketika Nabi pindah ke Madinah, aktifitas pertama kali yang dilakukannya adalah membangun masjid. Tanah masjid Nabi pada asalnya merupakan sebuah marbad (tempat untuk mengeringkan kurma) milik dua anak yatim dari Bani Najjar yang bernama Sahl dan Suhail. Nabi membeli tanah ini dari mereka untuk membangun masjid dan rumahrumahnya. Pada masa selanjutnya, masjid ini menjadi pusat pendidikan. Di antara tempat-tempat pendidikan yang ada di Madinah adalah 5 yaitu :

  1. Shuffah

Shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai  untuk melaksanakan aktifitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru (muhajirin) yang tergolong miskin dan tidak punya tempat tinggal. Di sini, para sahabat diajarkan membaca dan menghafal al-Quran secara benar, di samping juga diajarkan materi hukum Islam di bawah bimbingan langsung dari Nabi. Pada masa itu, setidaknya telah ada sembilan shuffah yang tersebar di kota Madinah, salah satunya terletak di samping Masjid Nabawi. Nabi mengangkat ‘Ubadah bin ash-Shamit sebagai salah satu guru pada sekolah shuffah di Madinah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa beliau pernah mengajar al-Quran dan baca-tulis kepada golongan dari ahl ash-shuffah. Sahabat lain yang mengajar di ash-shuffah adalah ‘Abdullah bin Sa‘id bin al-‘Ash mengajar bidang studi membaca dan menulis. Ubay bin Ka‘b juga mengajar al-Quran di shuffah, bahkan di antara tenaga pengajarnya terdapat beberapa tawanan perang Badr, mereka disuruh mengajar peserta didik ash-suffah sebagai tebusannya.

  1. Dar al-Qurra’

Dar al-Qurra’ ini yang secara etimologis berarti rumah para pembaca al-Quran. Semula ia merupakan rumah milik Makhramah bin Naufal, namun tidak ada kejelasan apakah Dar al-Qurra’ ini merupakan asrama bagi para qari’, tempat belajar mereka atau tempat tinggal sekaligus tempat belajar. Namun yang akhir ini agaknya yang lebih mendekati kebenaran, di antara nama sahabat yang tinggal di rumah ini adalah Ibn Umm Maktum.

  1. Kuttab

Kuttab berarti tempat belajar atau tempat di mana dilangsungkan kegiatan tulis-menulis, biasanya Kuttab ini dipakai sebagai tempat pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak. Pada waktu itu, terdapat beberapa kuttab di Madinah. Ahmad Syalabi membedakan antara kuttab yang khusus untuk mengajar anak-anak baca tulis dan kuttab yang digunakan untuk mengaji al-Quran dan dasar-dasar agama.

  1. Masjid

Semenjak masjid berdiri di zaman Nabi, ia telah dijadikan pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial dan ekonomi. Namun yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan. Sebagai contoh, ketika turun ayat al-Quran, beliau langsung keluar menuju masjid dan membacakannya kepada para sahabat. Pada saat itu, sudah terdapat 9 buah masjid di Madinah yang kemungkinan juga dipakai sebagai madrasah. Para sahabat sering berkumpul dan duduk dengan bentuk halaqah (lingkaran) di masjid untuk melakukan tadarus al-Quran. Dalam halaqah tersebut, proses belajar mengajar dilaksanakan.

  1. Rumah para sahabat

Rumah para sahabat juga dipakai untuk belajar dan mengajar meskipun tidak secara rutin. Misalnya apabila Nabi kedatangan tamu-tamu dari daerah sekitar Madinah, mereka menginap di rumah para sahabat. Seraya menginap, mereka belajar al-Quran dan ajaran Islam dari Nabi atau sahabat pemilik rumah. Seperti rumah Ramlah bint al-Harits yang pernah menjadi tempat istirahat.

Demikianlah, sedikit pembahasan mengenai bagaimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabat. Dari yang sedikit ini semoga kita dapat mengambil hikmah/ibrah serta pelajaran mengenai betapa perjuangan dalam mempelajari al-Qur’an dan agama Islam ini, sehingga nantinya generasi berikutnya mampu mewarisi keilmuan dan spirit dalam mencari ilmu.

Alfandi Ilham S.Ag

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?