Blog

TIPOLOGI ANAK DALAM ISLAM

Anak merupakan amanah sekaligus anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala yang harus dirawat, dijaga, dididik dan juga dan dibina. Anak merupakan investasi dunia dan akhirat yang nantinya diharapkan mampu memberikan kebermanfaatan bagi bagi keluarga, masyarakat agama dan negara. Selain menjadi investasi dunia dan akhirat, anak juga merupakan perhiasan bagi sebuah keluarga. Sepasang suami – istri akan merasa kurang sempurna rumah tangganya apabila belum dikaruniai anak, karena anak berfungsi memeperindah rumah tangga, menghangatkan suasana dan sebagai permata hati bagi keluarga. Akan tetapi perlu diingat, bahwa orang tua yang hanya memposisikan anak sebagai perhiasan semata dan melupakan pembinaan serta pendidikannya maka hal tersebut tidaklah tepat, kenapa? Karena jika hal tersebut terjadi maka pada akhirnya anak tidak lebih dari sebuah “ Pajangan “ yang secara fisik dapat dibanggakan namun secara kualitas moral, iman , ilmu dan amalnya tidak bisa untuk dibanggakan. Anak juga bisa menjadi ujian (fitnah) bagi kedua orang tuanya sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran , Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S Al – Anfal : 28)

Dalam kitab Liyaddabbaru Ayatih dijelaskan bahwa, harta dan anak – anak itu hanyalah sebagai sebab cobaan/fitnah untuk mengetahui apakah hal yang demikian menjadikannya menjalankan amanah atau menyia-nyiakannya (ibadah) dengan harta dan medidik anak. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran anak bisa menjadi ujian bagi orang tua, apakah anak dapat meningkatkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menjadikannya sebagai anak yang shaleh atau sebaliknya kehadiran anak membuat kelalaian terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena terlalu cinta kepada anak sehingga meninggalkan kewajiban ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena sibuk mengurus anak.

Dan yang paling mengerikan adalah ketika anak menjadi musuh bagi orang tuanya , kenapa bisa ? anak bisa menjadi musuh bagi orang tuannya jika orang tuanya menyeru kepada kebaikan sedang anaknya melakukan kepada amar munkar nahi ma’ruf, naudzubillah, atau pun seorang anak yang menghancurkan reputasi orang tuanya, dan ada juga orang tua yang kaya jatuh miskin karena perilaku anaknya, orang tua yang jatuh harga dirinya karena perilaku anaknya. Orang tua mana yang tidak hancur hatinya manakala anak perempuannya hamil sebelum nikah bahkan ada juga yang hamil tanpa diketahui ayah biologis yang sesungguhnya, Na’udzu billah min dzalik.

Dan hal ini sudah termaktub dalam Al-Quran dalam surah At –Taghobun ayat 14 yang berbunyi :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيم

Artinya : “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Orang tua mengharapkan anak – anak yang shaleh dan shalehah dan menjadikan penyejuk hati bagi orang tuanya atau biasa dikenal dengan istilah Qurratu A’yun yang artinya cahaya mata, permata hati, dan sangat menyenangkan. Anak yang senatiasa tunduk dan taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berbakti kepada orang tua, bermuamalah dengan baik antar sesama manusia atau dengan ungkapan lain beriman, berilmu dan beramal.

Seorang anak yang mampu menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu Wata’ala ( hablun minallah ) dan hubungan dengan manusia ( hablun minannas ) adalah ciri anak yang shaleh. Lantas timbul pertanyaan, apakah anak shaleh dilahirkan? Atau karena keturunan atau karena didikan orang tuannya?

ANAK SHALEH TIDAK DILAHIRKAN

Bagi orang tua anak yang shaleh adalah harapan paling besar dalam kehidupan keluarga, anak yang membawakan ketenangan, cahaya penerang dalam keluarga yang membuat hati orang tua ketika melihatnya menjadi tenang. Anak shaleh atau qurratu a’yun tidak dilahirkan akan tetapi dibentuk, dididik dan dibina lewat pendidikan yang baik terkhusus pendidikan keluarga, karena madrasah pertama bagi anak adalah keluarga.

Setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi masih dalam keadaan fitrah, masih suci dari hal – hal yang  buruk, dan orang tuannya yang merubah fitrah itu menjadi baik atau buruk. Fitrah itu sendiri adalah sebuah potensi tersembunyi dalam diri sang anak yang membuatnya mengenal Allh Subhanahu Wataala dan mengantarkannya serta membawanya untuk memohon pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Setiap oangtua memiliki kewajiban untuk memelihara dan mengembangkan fitrah anak atau potensi dasar keIslaman anak tersebut, sehingga potensinya tumbuh dan berkembang dan menjadi muslim yang benar – benar menyerahkan diri secara total kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jika potensi tersebut dibiarkan dan tidak dibina maka potensi dasar tersebut akan berkembang ke arah yang bertentangan dengan Allah Subhanahu Wata’ala menciptakannya. Dan pada akhirnya hal yang demikia akan menciptakan karakter anak yang buruk dan berujung pada ketidak taatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, pembangkangan terhadap perintah-Nya dan pelanggaran terhadap ketentuan yang telah Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan. Na’udzu billah min dzalik.

Maka inilah peranan penting orang tua untuk mendidik dan mengarahkan kepada kebaikan serta memeliharannya dari hal –  hal yang buruk terlebih lagi menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al – Quran

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S At –Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib r.a menafsirkan ayat “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” bahwa maksudnya adalah ajarilah keluarga kalian dengan ilmu dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik.

Hasan Bashri menambahkan, perintahkan keluargamu untuk taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan ajarilah mereka kebaikan. Muqatil seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in mengatakan “Hendaknya seorang muslim memerintahkan dirinya dan keluarganya untuk megajarkan kenaikan dan melarang mereka melakuan kemaksiatan.” Walhasil hampir semua ahli tafsir sepakat, bahwa ayat ini merupakan perintah kepada orang tua untuk mendidik anak, istri dan keluarganya dengan pendidikan yang baik dan benar.

Ibnul Qoyyim sangat menekankan tanggungjawab orang tua dalam mendidik anaknya. Ia perpendapat bahwa perintah kepada orang tua untuk mendidik anaknya lebih didahulukan dari pada perintah kepada anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Ia menambahkan “ Barangsiapa dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari orang tuanya yang mengabaikan sang anak. Orang tua juga tidak mengajarkan kewajiban – kewajiban agama berikut sinah – sunahnya. Ada sebagaian orang tua yang memarahi anaknya karena durhaka kepadanya. Kemudian sang anak membantah  wahai ayah, anda sendiri yang telah mendurhakaiku di masa kecil maka aku sekarang mendurhakaimu setelah anda tua renta. Sewaktu kecil engkau melalaikanku, maka sekarang aku pun mealaikanmu .”

Sekali lagi bahwa keshalehan anak tidak dilahirkan begitu saja. Ia merupakan proses sebuah pendidikan yang panjang dan memerlukan kesungguhan. Seorang ustadz atau kyai tidak bisa menjamin anaknya menjadi shaleh jika tidak dididik dengan pendidikan yang baik dan sungguh – sungguh. Sebaliknya banyak terjadi seorang anak dari ayah penjahat atau ahli maksiat, tetapi ia mendapatkan pendidikan yang justru bisa menjadi anak yang shaleh. Karena itu, orang tua lah yang paling bertanggungjawab terhadap shaleh atau tidaknya anak.

Selain itu orang tua juga selalu berdoa meminta kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar dikaruniai anak yang shaleh sebagaimana kisah doa nabi Ibrahim ‘alaihissalam :

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya : “ Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku (seorang anak ) yang termasuk orang – orang shaleh.” (Q.S As – Shaffat :100)

Nabi Ibrahim di usia yang sangat renta belum juga dikaruniai seorang anak. Dia berdoa siang malam kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar dikaruniai seorang anak. Beliau terus bermunajat tanpa rasa letih dan bosan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ia meminta bukan sembarang anak melainkan seorang anak yang shaleh. Akhirnya di usia yang ke 86 tahun nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak bernama Ismai dan anak kedua bernama Ishaq yang lahir ketika nabi Ibrahim berusia 99 tahun.

Mengapa harus meminta anak yang shaleh ? karena hanya anak yang shalehlah yang bisa membahagiakan orang tuanya. Hanya anak shalehlah yang pantas menjadi harta paling berharga bahkan tak ternilai harganya. Kenapa? Kalau meminta anak yang suksws di dunia, maka hasilnya hanya dipetik di duna saja, setelah wafat, orang tua tidak mendapatkan apa – apa. Namun anak yang shaleh tidak hanya dapat kita petik hasilnya di dunia saja, bahkan hasil jerih payah kita dalam membesarkannya dapat kita rasakan kelak di akhirat. (Diambil dari beberapa sumber dengan penyesuaian)

Nurul Wijaksono (Anggota Bidang Dakwah Dan Pengkajian Agama Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tompeyan)

Sumber :

Al – Hulaiby, Ahmad bin Abdul Aziz .2011. Dasar – Dasar Pembinaan Wawasan Anak Muslim, terj. Surabaya: Pustaka eLBA.

Huzaery, Hery. 2015. Agar Anak Kita Menjadi Saleh. Solo : PT AQWAM MEDIA PROFETIKA.

Ilyas, Yunahar. 2016. KULIAH AKHLAK. Yogyakarta : Lembaga Pengajian dan Pengamalan Islam (LPPI)

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?