Blog

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang agung di dalam Islam. Pada bulan Dzulhijjah terdapat hari besar bagi umat Islam yaitu Idul Adha atau Idul Qurban. Sama halnya dengan momentum Idul Fitri yang sebelumnya terdapat banyak rangkaian ibadah seperti puasa di bulan Ramadhan, shalat tarawih, membayar zakat fitrah dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam menyambut hari besar Idul Adha juga terdapat amalam-amalan yang dianjurkan oleh Islam. Adapun amalan-amalan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memperbanyak membaca tahlil, takbir dan tahmid serta memperbanyak amal shalih pada awal bulan Dzulhijjah yakni tanggal 1-10 bagi yang sedang tidak berhaji. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, terutama pada sepuluh hari pertama termaktub di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah swt berfirman:

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ (4)

Demi Fajar (1) Dan malam yang sepuluh (2) Dan yang genap dan yang ganjil (3) Dan malam bila berlalu (4).” (Q.S al-Fajr: 1-4).

Ibnu Abbas menafsirkan maksud yang sepuluh pada ayat di atas adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun dalil yang menunjukkan untuk memperbanyak tahlil, takbir dan tahmid di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

عَنِ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi saw, beliau bersabda: Tiada hari dimana amal shalih lebih utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Maka perbanyaklah pada hari itu dengan tahlil, takbir dan tahmid.” (HR Ahmad).

Dzikir pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini dapat dibagi menjadi tiga macam. Pertama, dzikir mutlaq, yaitu dzikir secara umum dan mutlak tanpa terikat waktu khusus. Kedua, dzikir khusus, yaitu dzikir yang disyariatkan seperti dzikir di pagi dan sore hari atau doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Ketiga, dzikir yang terikat, yaitu takbir hari raya yang memiliki lafadz yang khusus dan waktu yang juga terbatas. Takbir Idul Adha dimulai sejak fajar (subuh) hari Arafah hingga waktu ashar pada hari tasyrik yang terakhir, khususnya setelah selesai shalat fardhu.

  1. Shahibul Qurban tidak boleh memotong kuku dan rambut mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi saw:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa Nabi saw pernah bersabda: Jika kalian telah menyaksikan hilal bulan Dzulhijjah (telah masuk bulan Dzulhijjah) dan kalian ingin berkurban, maka hendaklah shahibul qurban membiarkan (tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR Muslim).

Menurut ulama syafiiyyah hikmah dari larangan tersebut adalah agar rambut dan kuku tetap ada sampai hewan kurbannya disembelih, sehingga semakin banyak anggota badan yang terbebas dari api neraka.

  1. Puasa Arafah yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hukum puasa Arafah adalah sunnah muakkadah atau yang sangat dianjurkan. Rasulullah saw dalam sebuah hadis memberikan penjelasan mengenai keutamaan puasa Arafah yaitu:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa di hari Arafah, beliau menjawab: Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR Muslim).

  1. Orang yang menghadiri shalat Idul Adha baik laki-laki atau perempuan dianjurkan untuk memakai pakaian yang rapi dan bersih serta memakai wangi-wangian sewajarnya.
  2. Tidak makan sejak fajar sampai dengan selesai shalat Idul Adha. Hal ini berkebalikan dengan Idul Fitri bahwa sebelum berangkat sholat Idul Fitri dianjurkan untuk makan terlebih dahulu. Hikmahnya adalah agar tidak disangka bahwa hari itu masih berpuasa. Sedangkan anjuran untuk tidak makan terlebih dahulu mulai fajar sampai setelah shalat Idul Adha adalah agar kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah selesai shalat Id.
  3. Shalat Id yang dihadiri oleh semua umat Islam. Tatkala sholat Idul Adha maupun Idul Fitri dianjurkan bagi semua umat muslim baik laki-laki maupun perempuan, orang tua, dewasa, muda, anak-anak bahkan perempuan yang sedang haid pun dianjurkan untuk tetap menghadiri sholat Id. Akan tetapi, bagi perempuan yang sedang haid tidak boleh ikut shalat dan masuk ke dalam shaf shalat, namun ikut hadir untuk mendengarkan pesan-pesan dalam khutbah yang disampaikan oleh khatib.
×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?