Blog

Abdur Rozaq Fachruddin atau yang biasa disapa dengan nama Pak AR adalah seorang ulama yang kharismatik. Beliau adalah ketua PP Muhammadiyah terlama yakni dari tahun 1968-1990. Pak AR adalah sosok kyai yang sederhana, bersahaja, zuhud, menyejukkan dan penuh hikmah dalam menyampaikan pesan ilmu. Dalam suatu momen muktamar Muhammadiyah Pak AR menyampaikan bahwa salah satu asas Muhammadiyah adalah pancasila. Sebagai seorang muslim berpancasila bukan sesuatu yang dapat merusak keislaman atau keimanan seseorang. Sehingga tidak perlu dipertentangkan antara Islam dan Pancasila. Menurut Pak AR pancasila merupakan dasar Negara Republik Indonesia yang berupa lima sila. Selanjutnya akan dijelaskan penafsiran Pak AR terhadap pancasila.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Menurut Agama Islam, Allah adalah Tuhan yang menciptakan segala apa yang ada di langit dan bumi. Allah yang memberi kehidupan dan yang mematikan semua yang hidup. Allah adalah pusat segala permohonan dan tujuan segala kejadian. Allah tidak beranak dan tidak diperanakan dan tidak ada satu pun yang menyamai dan menandingi. Dengan sila pertama ini, diharapkan agar setiap umat beragama di Indonesia harus saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain. Tidak dibenarkan apabila karena berbeda keyakinan agama kemudian saling mengejek, menghina, berselisih, diskriminasi bahkan sampai bertengkar. Bangsa Indonesia harus mempunyai keyakinan bahwa hidup ini tidak cukup hanya dengan mementingkan keduniaan semata, tetapi harus memiliki keseimbangan antara jasmani, rohani, lahir-batin dan akhirat.

  1. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Dengan sila ini, dimaksudkan agar bangsa Indonesia mempunyai keyakinan dan memegang teguh serta menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Manusia itu satu dengan yang lainnya sama yakni sederajat, tidak ada perbedaan walaupun bangsa Indonesia ini terdiri dari beragam suku, budaya, agama dan bahasa. Bagi bangsa Indonesia rasa kemanusiaan harus dapat menumbuhkan jiwa gotong-royong, tolong-menolong, tenggang rasa dan peduli dengan sesama. Rasa kemanusiaan juga harus dapat mencegah dari sifat-sifat egois, menang sendiri, tamak, sombong, angkuh dan acuh terhadap sesama. Hal itu sesuai dengan ajaran Islam bahwa, a) semua manusia adalah anak keturunan Nabi Adam yang menunjukkan bahwa semua manusia berasal dari nenek moyang yang sama. b) perbedaan bahasa, warna kulit, bentuk fisik, semuanya itu bukan tolok ukur kemuliaan seseorang, karena kemuliaan seseorang ditentukan dari seberapa takwa dia kepada Allah. c) tiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. d) manusia seyogyanya memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh.

  1. Persatuan Indonesia

Dengan sila ketiga ini, diharapkan dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang di dalamnya terdapat banyak suku budaya yang beraneka ragamnya. Dari Sabang sampai Merauke dengan segala kekayaan dan keragaman yang ada hendaklah saling menguatkan dalam sebuah persatuan yaitu Indonesia.

  1. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Dalam pelaksanaannya, kerakyatan itu diwujudkan dengan permusyawaratan perwakilan yang diatur dengan Undang-Undang. Kemudian, dalam bermusyawarah diusahakan untuk mencapai mufakat. Semua yang telah diputuskan hendaknya ditaati dan dilaksanakan dengan penuh keyakinan. Dengan sila keempat ini, diharapkan bangsa Indonesia memiliki rasa harga diri dan tanggung jawab atas semua hal yang menjadi keperluan dan kepentingan negara, bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

  1. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dengan sila kelima ini, diharapkan seluruh rakyat Indonesia memiliki rasa adil terhadap sesama, menjaga dan mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar keadilan dapat merata dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Tidak adanya perbuatan sewenang-wenang dari pihak manapun, terutama yang memegang kekuasaan, kekayaan merupakan salah satu upaya menegakkan keadilan.

Demikianlah, penafsiran Pak AR terhadap pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Kesimpulannya adalah bahwa pancasila dan agama bukan merupakan dua hal yang pantas dipertentangkan. Pancasila sebagai dasar negara mengandung dan membawa ajaran-ajaran yang mulia demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Sebagai warga negara Indonesia siapa pun itu, sudah seharusnya menjalankan pancasila dengan sepenuh hati dan merawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

×

Hallo Sobat Askafi!

Silahkan klik dibawah untuk chat melalui Whatsapp atau ajukan pertanyaan melalui Email di lazismuaskafi@gmail.com

× Hallo ada yang bisa kami bantu?